Untukmu Kawan : Sebuah Pengakuan
Selamat siang kawan !
Bagaimana kabar HIMPUNAN? Lama sudah rasanya aku tidak bersua dalam kebersamaan, aku tahu aku pengecut jalanan sama seperti yang pernah kau katakana padaku jika aku ini hanyalah seseorang yang “terkadang menyesatkan” mu dalam dilematis sebuah pilihan. Semoga, harapanku kabar kalian akan senantiasa dalam kedamaian serta kesejahteraan serta kebersamaan yang saling menunjukan pada jalur kebenaran sama seperti apa yang diharapkan dan di cita-citakan HIMPUNAN.
Kabarku baik, Alhamdulillah! Aku piker ini berkat do’a kalian!
Maaf aku hanya bisa sampaikan pesan ini lewat tulisan yang aku piker ini tanpa makna serta arti apa-apa, namun setidaknya aku sampaikan pesan ini yang aku rasa inilah pesan terbaik yang untuk saat ini aku sampaikan dengan segera kepada kalian, kawan-kawanku di HIMPUNAN, terutama untukmu saudaraku, sahabatku, kawanku, dan maaf “oaring yang pernah aku sesatkan” jalan kebijakan dan kekuasaanmu.
Dengan sangat sadar aku rangkai huruf demi huruf kalimat ini, sehingga dengan kesadaranku pula aku berani menuangkan segala apa yang aku sebut dalam dunia ide ku ini adalah wujud ke“GILA”an ku akan mandeknya rasionalitas berfikirku, saat semua asa hanya berhenti menjadi asa, saat semua cita sebats menjadi wacana tanpa makna, aku pun tahu aku berkonstribusi dalam kehancuran ini sehingga asa yang diharapkan mampu membawa bangga malah sekarang tercebur dalam sungai cela, cita yang dulu diharapkan membawa satu buah bendera bahagia kini hanya tersisa celaka dalam kubangan “konsensus” dusta. Maaf aku kata demikian karena aku merasa demikian.
Sebentar aku mulai paham kenapa dulu Wahib tinggalkan HIMPUNAN, hal serupapun di amini oleh rekannya Djohan, disusul oleh Cak Nur dengan harapannya membubarkan HIMPUNAN kemudian lahir pula banyak generasi setelahnya yang juga mengamini hal demikian dengan satu buah kesimpulan pada titik temu mereka semuanya merasa cinta serta muak dengan keadaan yang ada ; begitupun aku. Aku merasa maka aku ada, aku merasa sebab aku cinta, aku merasa sebab aku benar benar merasa. Maaf aku mengutip kata Freud dalam psiko analisisnya. Dalam pikirku, aku ingat kata kata Sartre dengan konsekuensi hidup ini adalah pilihan, bahkan tidak memilih sekalipun itu adalah pilihan untuk tidak memilih, namun masih sedikit terngiang dalam benakkua Sartre menekankan bukan pada aspek pilihan tapi Sartre lebih berteriak lantang pada sisi “TANGGUNG JAWAB” dan segala effek positive ataupun negative terhadapa pilihan itu sendiri. Dan KINI AKU MEMILIH!!
Sebentar, maaf aku lupa satu hal!
Aku belum sampaikan permohonan maafku padamu, karena engkau begitu perhatian padaku, hingga suara kempis kentut ku pun kau tahu, hingga tahi lalat di selangkangan ku pun kau hafal, maaf akau tak menghargai perhatianmu dengan balasan perhatian yang sama. Maaf aku tak bisa membalas jasa baikmu, namun satu pertanyaanku ; apa modus kau melakukan semua itu?! Apa hanya sebatas seorang atasan kepada bawahannya, atau sebatas seorang saudara kepada saudaranya, atau sebatas seorang kawan kepada seorang kawannya, atau seorang kekasih kepada kekasihnya? Maaf bukankah ungkapan kekasih tidak hanya dialamatkan kepada lawan jenis seperti Tuhan memeberi gelar kekasih kepada Ibrahim!! Atau apa modus dari semua ini?!
Satu hal lagi, aku percaya jika aku betul menyesatkan seperti yang pernah kau katakana padaku. Itu mungkin hal yang paling menyakitkan dalam sejarah pendengaranku selama hidupku, ternyata betul Kata Tuhan ; tidak selamanya niat baik diartikan baik atau seperti yang dikatakan Malthus dan Einstein bahwa hidup ini hanya sebuah ketololan relativitas, kebenaran mutlak hanya ada pada dimensi kosmic yang tak tergambarkan. Maaf mungkin selama ini niat baik ku salah diartikan, atau mungkin benar katamu niat baikku hanya menyesatkanmu.
Akhirnya : Aku Memilih Jalan Sepi
Jalan sepi yang aku pilih mungkin bisa kau artikan sebagai sebuah pelarian semata dalam kesendirian serta keterasingan diriku dalam kubangan kebersamaan, namun sebentar aku sadar ini memang pilihan yang harus aku pilih dalam setiap kesempatan. Jika dulu aku lebih banyak berteriak, berdialektika, berwacana tanpa makna maka sekarang aku sadara wacanaku hanya berhenti pada KATA KATA saja persis seperti yang kau katakana, aku hanya mampu berwacana. Awalnya aku yakin AKSI adalah mimpi tanpa wacana, dan lebih baik berwacana tanpa AKSI daripada AKSI tanpa wacana dulu aku bilang “T.O.L.O.L” sekarang aku mengerti bagaimana balancing antara keduanya harys berjalan beriringan secara hierarkis berkesinambungan antara satu distorsi menuju distorsi yang lain.
AKU KALAH ; KALAH DALAM DIALEKTIKA AKU SENDIRI
Dalam kekalahan aku pada janjiku, pada nadzarku, pada sumpahku, pada eksistensiku, dan pada semua
yang telah “AKU KIBARKAN BENDERA” perang dulu, AKU KALAH DALAM PEPERANGAN AKU SENDIRI. Hari ini aku mengaku KALAH pada kesombingan wacanaku, aku mengaku KALAH pada kekerdilanku, aku KALAH pada kebesaran strategi kalian. Maaf ini tulus aku ucapkan tanpa tendensi apapun! AKU KALAH
PILIHAN : ADALAH SEBUAH NERAKA
Maaf lagi lagi aku kutip sedikit kata kata Sartre si anak durhaka yang sama nasabnya dengan Nietzsche yang ingin membunuh Tuhan semua manusia, dan Menjadikan Tuhan itu manusia sendiri ; sebenranya mereka baik namun pola berfikir mereka yang tidak baik. Semoga Allah mengampuni mereka. Betul kata mereka Pilihan adalah neraka kehidupan, mengapa semua manusia harus memilih? Kenapa harus ada pilihan jika ternyata Tuhan lebih berkuasa untuk menetapkan segalanya dengan ketetapan dan kekuasaan-Nya?! Akupun kini terpaksa harus masuk dalam neraka pilihan itu sendiri. Terserah kau terjemahkan apa pilihanku ini, yan jelas inilah pilihanku, pilihan untuk sunyi sendiri seperti Muhammad yang memilih tahannuts di Hiro dengan jalannya dan petunjuk Tuhannya.
Mungkin sudah cukup KATA KATA ini menggangu pikirmu, mengganggu segala benak hidupmu, namun aku rasa ini dianggap perlu ; atau anggap saja KATA KATA ini kaku tanpa makna, sama seperti KATA KATA DAHSYAT yang dipakai alasnya sebagai bungkus kacang jalanan.
Salam Hormat,
Kawanmu
ttd
Si Kerdil “MENYESATKAN”

nice blog...Jalin silaturahmi selalu...
BalasHapushttp://nidafadlan.wordpress.com/