Meraih Cinta Bersama Rabi'ah Al - Adawiyah
BAB I
PENDAHULUAN
MERAIH ALLAH DENGAN CINTA
1. Latar Belakang
“Meraih Allah Dengan Cinta” merupakan satu buah judul yang coba diangkat untuk kemudian dikembangkan. Sebenarnya judul ini merupakan bentuk apresiasi terhadap cara indah yang pernah dilakuka oleh Rabi’ah Al Adawiyah dalam menjalani puncak perjalanan spiritualnya dalam upaya meraih kasih sayang Allah.
Akan tetapi dalam makalah ini tidak dibahas lebih dalam tentang paham wuhdatul wujud yang juga dimiliki oleh Rabi’ah Al Adawiyah, melainkan hanya menyebutkan tentang bagaimana Rabi’ah sebagai sang pencinta merasakan buah dari kecintaannya kepada Allah Tuhannya berupa syauq, uns, dan ridho.
Cinta juga menjadi salah satu alasan tersendiri dalam pengangkatan judul makalah ini, sebab dalam makalah ini akan kembali merekonstruksi makkna cinta yang selama ini dipikir sudah tidak lagi sesuai dengan maknanya secara hakikat, melihat banyaknya pemahaman yang sangat keliru terhadap makna dan hakikat daripada cinta itu sendiri.
2. Tujuan
Seperti disebutkan tadi, bahwa salh satu tujuan penulisan makalah ini, selain untuk memenuhi kewajiban tugas mandiri pada mata kuliah Akhlaq Tasawuf dan keinginan untuk kembali merekonstruksi makna cinta, makalah ini juga mencoba untuk mengupas kembali sisi perjalanan spiritual Rabi’ah Al Adawiyah dengan sisi yang berbeda dari banyak kisah yang pernah diceritaka tentangnya yang lebih menitik beratkan kepada paham wuhdatul wujudnya.
Dan juga semoga dengan penulisan makalah ini banyak menuai hikmah dan rahmat dari Allah SWT. sehingga kita semua akan hidup dipenuhi dengan warna cinta yang beragam dan indah dalm menjalani hidup dan kehidupan ini.
BAB II
PEMBAHASAN
MERAIH ALLAH DENGAN CINTA
1. Pengertian, Jenis dan Tujuan Cinta
Cinta mempunyai berbagai jenis dan sebab. Salah satunya adalah cinta yang terjalin dengan cepat, tapi pupusnya juga cepat; kedua, cinta yang terjalin dengan cepat tetapi pupusnya lambat; ketiga, cinta yang terjalinnya lambat, tetapi pupusnya cepat; keempat, cinta yang terjalin lambat, dan pupusnya juga lambat.
Terbaginya cinta menjadi jenis – jenis ini hanya karena sasaran yang menjadi tujuan kehendak dan tindakan manusia ada tiga, dan ketiganya berpadu dalam membentuk sasaran keempat. Keempat sasaran ini adalah kenikmatan, kebaikan, kegunaan dan paduan ketiganya. Karena inilah yang menjadi tujuan sasaran manusia, tentunya ini pulalah yang menentukan jenis cinta yang sedang dijalani oleh manusia. Cinta yang timbul karena kenikmatan adalah cinta yang terjalin cepat, tetapi pupusnya juga cepat. Hal ini karena kenikmatan bersifat sangat cepat berubah. Cinta karena kebaikan adalah cinta yang terjalin dengan cepat, tetapi pupusnya lambat. Cinta yang timbul karena kegunaan atau manfaat adalah cinta yang terjalin lambat namun pupusnya cepat. Adapun cinta yang timbul karena paduan sebab – sebab di atas, apabila paduan ini mencakup kebaikan pada kegunaan dan kenikmatan, maka cinta seperti ini terjalin lambat, tetapi pupusnya pun sangat lambat. Seluruh jenis cinta ini hanya terdapat pada manusia, karena cinta ini hanya melibatkan kehendak dan pikiran, dan ada perolehan dan balasan didalamnya.
Lain halnya dengan dengan jalinan cinta pada hewan yang tidak berakal. Cinta mereka lebih tepat disebut dengan istilah afinitas (daya tarik). Dan itu pun hanya terjadi di kalangan hewan – hewan yang sejenis atau satu spesies saja.
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi (menghargai) terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi / kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Cinta atau dalam bahasa Tasawuf dikenal dengan istilah mahabbah secara etimologi berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Selain itu al – mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang sedang dicintainya, anak kepada orang tuanya, seseorang kepada sahabatnya, atau seorang pekerja kepada pekerjaannya. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh – sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.
Kata mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukan pada suatu paham atau aliran tertentu dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditunjukan kepada Tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan tersebut, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhian pada Tuhan.
Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan aL-Qusyairi sebagai berikut :
Al – mahabbah adalah hal (keadaan) jiwa yang mulus yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.
Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan, pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain sebagai berikut:
1. Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
3. Mengosongkan hati dari segala – galanya kecuali dari yang dikasihi, yaitu Tuhan.
Dilihat dari segi tingkatannya, mahabbah sebagai dikemukakan oleh aL-Sarraj yang kemudian dikutip oleh Harun Nasution, ada tiga macam, yaitu mahabbah orang biasa, mahabbah orang shidiq dan mahabbah orang yang arif.
mahabbah orang biasa
Mahabbah ini selalu mengambil bentuk dengan cara mengingat Allah dengan zikir, suka menyebut nama – nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Allah. Senantiasa memuji Allah. Selanjutnya ;
mahabbah orang shidiq
Mahabbah orang shidiq adalah cinta seseorang yang kenal pada Allah, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya dan lain – lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah dan dengan demikian dapat melihat rahasia – rahasia yang ada pada Allah. Dia mengadakan dialog dengan Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini membuat orang tersebut sanggup menghilangkan kehendak – kehendak dan sifat – sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
mahabbah orang arif
cinta pada tingkatan ini adalah cinta orang yang betul tahu pada Tuhan. Cinta serupa ini timbul karena telah benar – benar mengenal dengan Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat – sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.
Ketiga tingkat mahabbah tersebut tampak menunjukan suatu proses mencintai, yaitu mulai dari mengenal sifat – sifat Tuhan dengan menyebut-Nya melalui zikir, dilanjutkan dengan leburnya diri (fana) pada sifat – sifat Tuhan itu, dan akhirnya menyatu kekal (baqa) dalam sifat Tuhan. Dari ketiga tingkatan ini tampaknya cinta yang terakhirlah yang ingin dituju oleh mahabbah.
Dengan uraian tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan dengan sepenih hati, sehingga sifat – sifat yang dicintai (Tuhan) masuk ke dalam diri yang dicintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan bathiniyah yang sulit dilukiskan dengan uraian kata – kata, tetapi hanya dapat dilukiskan dan dirasakan oleh jiwa.
Ketiga tingkatan tersebut juga sebenarnya telah mengabarkan kepada kita semua betapa besarnya perjalanan yang akan dan sedang ditempuh oleh seorang pecinta untuk mendapatkan apa yang ia inginkan serta apa yang ia ingin raih.
2. Alat Mencapai Mahabbah
Harun Nasution dalam bukunya Falsafah dan Mistis dalam Islam mengatakan, bahwa alat yang dipergunakan untuk berhubungan dengan Tuhan ada tiga, seperti yang dia kutip dari teori yang dikemukakan oleh Imam aL-Qusyairi yaitu : Pertama al qalb ( ) hati sanubari, sebagai alat untuk mengetahui sifat – sifat Tuhan. Kedua ar ruuh ( ) sebagai alat untuk mencintai Tuhan. Ketiga sir ( ) yaitu alat untuk melihat Tuhan.
Dengan keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa alat untuk mencintai Tuhan adalah ar ruuh, yaitu ruh yang sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat, serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu, melainkan hanya diisi oleh cinta kepada Tuhan.
Ruh yang digunakan untuk mencintai Tuhan itu sebenarnya telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia sejak kehidupannya dalam alam kandungan berumur empat bulan atau tepatnya ketika proses kejadian manusia telah menjadi benar – benar sempurna dalam kandungan ibu atau ketika malaikat Jibril datang dengan empat perkara yang sudah dituliskan atas kejadian hidup manusia itu sendiri, seperti yang telah Allah firmankan dalam Q.S. Al Hijr ayat 29 :
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nyadengan bersujud.
Dengan demikian secara langsung pada hakikatnya manusia sudah memiliki alat untuk meraih cinta tersebut. Akan tetapi manusia tidak akan pernah mengetahui tentang hakikat ruh itu sendiri melainkan Allah. Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Q.S. Al Israa’ ayat 85 :
Mereka itu bertanya kepada Engkau (Muhammad) tentang ruh, katakanlah bahwa ruh itu urusan Tuhan, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit sekali.
Dua ayat tersebut jelas menginformasikan kepada kita bahwa manusia telah dianugerahi ruh oleh Tuhan, juga menunjukan bahwa ruh itu pada dasarnya memiliki watak tunduk dan patuh pada Tuhan. Ruh yang wataknya demikian itulah yang digunakan para sufi untuk mencintai Tuhan sehingga mereka benar – benar meraih cinta dan kecintaan terhadap Tuhan mereka.
3. Cinta Adalah Kata Kunci Mengenal dan Meraih Allah
Menurut Imam Ghazali, puncak keberagamaan manusia adalah mahabbah atau cinta. Beliau berpendapat bahwa yang berhak untuk menerima cinta kita sesungguhnya hanyalah Allah SWT. Dia-lah satu – satunya mustahiq cinta kita. Sebab Tuhan hanya berlaku diskriminatif dalam urusan agama dan cinta saja. Dia hanya mencintai orang yang mencintai-Nya saja. Allah memberikan kepada siapa saja kasih saying-Nya tetapi tidak untuk cinta-Nya.
Dalam kitabnya yang berjudul Al Mahabbah, Imam Ghazali menulis :
“sesungguhnya kecintaan kepada Allah SWT adalah tujuan dari puncak dari seluruh maqom dan kedudukan yang paling tinggi. Karena itu, setelah diraihnya mahabbah, tidak ada lagi maqom yang lain kecuali buah dari mahabbah itu, seperti maqom syauq (kerinduan), uns (kemesraan), ridha dan lain – lain. Dan tidak ada maqom sebelum mahabbah kecuali pengantar – pengantar kepada mahabbah itu sendiri, seperti taubat, sabar, zuhud, dan maqom – maqom yang lain ”
Cinta adalah kata kunci untuk mengenal-Nya dan meraih cinta dan kecintaan-Nya. Melalui cintalah para sufi menyingkap misteri filsafat yang sangat besar. Menurut Thaha A. Baqi Surur dalam kitabnya Syakhshiyah ash - shufiyah, selama ini para filsuf bingung memperdebatkan kehidupan manusia serta tujuannya, tentang mengapa kita diciptakan dan apa risalah yang kita bawa.
Padahal menurut beliau, kaum sufi telah menjawabnya. Allah SWT menciptakan kita, karena Dia senang kita mengenal-Nya. Dia menciptakan mahkhluk, kemudian memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk tersebut, sehingga merekapun mengenal-Nya. Menciptakan makhluk agar mereka mencintai-Nya, menyembah-Nya dan mengagungkan-Nya. Allah SWT menciptakan kita untuk diri-Nya.
Artinya Dia menciptakan kita agar kita mempersembahkan cinta dan ketaatan kepangkuan-Nya, kemudian kita sujud menyembah-Nya untuk memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Apabila kita berhasil, jaminannya adalah ridha, cinta, surga, kerajaan yang kekal dan nikmat kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir.
Pelabuhan terakhir untuk mengenal Allah adalah dengan cara mencintai-Nya. Kita mencintai Allah karena Dia adalah Allah! Dzat Yang Maha Mencintai, yang membawa kita ke dalam samudera cinta sebagaimana yang terkandung dalam sebuah Hadits Qudshi :
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu berdo’a dan memohon kepada-Ku, Aku mengampunimu. Aku tidak akan peduli dengan dosa – dosa yang ada pada dirimu. Wahai anak Adam, seandainya dosa - dosamu mencapai langit kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku, Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli banyaknya dosamu. Wahai anak Adam, jika kamu mendatangi-Ku dengan dosa sebesar bumi, kemudian kamu menjumpai-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.”
Satu – satunya cinta yang tidak diwarnai oleh agitasi dan tidak akan tergoyahkan oleh bencana apapun, adalah cinta seorang hamba terhadap Penciptanya azza wa jalla. Cinta agung ini hanya dimilki orang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Orang lain tidak akan mungkin memilikinya. Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai Tuhan kalau dia tidak tahu terhadap Tuhan yang akan dia cintai.
Oleh karenanya, tentunya sebelum menjadikan mahabbah sebagai jalan meraih cinta Allah tentunya harus adal beberapa tahapan yang harus dilalui seperti apa yang telah Imam Ghazali sebutkan di atas. Gambaran perjalanan meraih Allah dengan cinta tersebut telah terdeskripsikan oleh kisah perjalanan seorang yang tidak membagi sedikit ruang dalam hatinya kepada siapapun selain untuk Allah SWT. Dia adalah seorang wali Allah yang iblispun tidak berani menggodanya, wali yang dilahirkan dengan kecantikan jasmani dan ruhani yaitu Rabi’ah al Adawiyah.
BAB III
RABI’AH AL ADAWIYAH
MERAIH ALLAH DENGAN CINTA
Hampir seluruh literature tentang tasawuf menyebutkan secara seragam bahwa tokoh yang benar – benar mengusung cinta sebagai jalan untuk meraih Allah adalah Rabi’ah Al Adawiyah. Hal ini didasarkan kepada kata – kata dan ungkapannya yang menggambarkan bahwa ia menganut paham tersebut.
Sufi wanita yang paling terkenal, Rabi’ah Al Adawiyah (w.185 H / 805 M), juga dikenal dengan sebutan Rabi’ah dari bashrah, hanya hanyan sedikit dikupas dalam riwayat – riwayat terdahulu yang menceritakan kehidupan para sufi. Catatan paling lengkap tentang kehidupan dan ungkapannya hanya terdapat pada karya berbahasa Persia yaitu Tadzkirat al-Auliya yang dikarang oleh seorang penyair dari Naisafur yaitu Farid al-Din Attar.
Attar memulai catatannya dengan memberikan gambaran yang menohok dan dramatis tentang masalah gender . sebagian orang mungkin bertanya – Tanya bagaimana bias Attar memasukan seorang wanita kedalam rangkaian para sufi besar yang pada saat itu disebut sebagai barisan laki – laki (shaff al-Rijal). Pertanyaan ini memunculkan berbagai respon dari sejumlah presfektif, baik histories, social maupun mistik. Attar mencoba mengungkapkan presfektif histories dan sejarah masa lalu, yaitu peran penting ‘Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, dalam sejarah perkembangan agama Islam. ‘Aisyah karena pengaruhnya sangat besar terhadap periwayatan hadits, disebut sebagai “pencipta 2/3 keimanan”. Attar juga menghubungkan masalah gender tersebut kedalam sebuah riwayat terkenal tentang Maryam ibunda Nabi ‘Isa as. Kemudian lebih jauh lagi Attar mengungkap hal yang lebih abstrak tentang keyakinan bahwa Tuhan hanya melihat ketulusan bathin seseorang, bukan bentuk luarnya. Dan akhirnya ia memungkas pembahasannya dengan memberikan argument pembenaran berdasarkan pandangan mistik tentang persatuan. Menurutnya, kaum ini, yaitu para sufi yang berada dalam kesatuan (Tauhid) tidak lagi mengenal perbedaan individu. Karenanya, tidak ada ruang bagi perbedaan antara laki – laki dan perempuan.
Bagian pembuka dalam karya Attar dimulai dengan merujuk pada diri Rabi’ah sebagai seorang wanita yang dihijabi dengan ketulusan. Statusnya sebagai wanita yang dimerdekakan, mantan budak, memberinya hak – hak istimewa seperti menolak pernikahan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan wanita lain. Bahkan diriwayatkan ketika seseorang mengajukan lamaran untuk menikahinya, ia mengembalikan masalah itu dan memasrahkan kepada tuannya, yakni Tuhan Yang Terkasih (yang dalam metaphor ini digambarkan sebagai seorang laki - laki). Hal ini, dengan demikian menjadikan masalah gender sebagai satu perempuan wacana yang memusingkan; menikahinya berarti mennikahi tuannya, karena implikasi dari konsep persatuan mistik.
Cinta Rabi’ah yang tulus tanpa mengharapkan sesuatu pada Tuhan, terlihat dari ungkapan do’a – do’a yang disampaikannya. Ia misalnya berdo’a :
“Ya Allah Tuhanku, bila aku menyembah-Mu lantaran aku takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun jika aku menyembah-Mu hanya demi Engkau, maka janganlah Engkau tutup keindahan Abadi-Mu.”
Kecintaan Rabi’ahpun banyak ia tumpahkan lewat ungkapan kerinduan dan kemesraannya dalam berhubungan dengan Tuhan.
Atas syair – syair tersebut, Imam al - Ghazali mengatakan : “Barangkali yang ia maksud dengan cinta kerinduan itu ialah cinta kepada Tuhan, karena kasih saying, rahmat dan iradah Allah telah sampai kepadanya” karena Allah telah menganugerahkan ruh, sehingga ia dapat menyebut dan dekat dengan-Nya.
Syair tersebut ia uacapkan pada saat telah dating keheningan malam dengan gemerlapnya bintang, tertutupnya pintu – pintu istana raja dan orang – orang telah terbuai dalam tidurnya. Waktu malam sengaja dipilih karena pada waktu itulah ruh dan daya rasa yang ada dalam diri manusia tambah meningkat dan atajam, tidak ubahnya seorang yang bercinta yang selalu mengharapkan waktu – waktu malam untuk selalu bersamaan.
Tentunya banyak sudah kisah perjalanan Rabi’ah dalam meraih Tuhannya. Tahap demi tahap telah ia lalui untuk meraih Cinta dan kecintaan Tuhannya. Sabar, taubat, zuhud, faqir, dan lainsebagainya sudah ia lalui lewat warna – warna kehidupannya. Bahkan buah dari mahabbahpun syauq (kerinduan), Uns (kemesraan), dan ridho sudah ia genggam sehingga terpancar sinar Cinta Ilahi dalam setiap gerakannya.
BAB IV
SEBUAH KESIMPULAN
MERAIH ALLAH DENGAN CINTA
Seperti apa yang diungkapkan oleh Imam al Ghazali bahwa puncak keberagamaan seseorang adalah mahabbah serta merasakan buah dari apa yang tengah dia lakukakan. Upaya yang digambarkan dalam sosok Rabi’ah Al Adawiyah merupakan satua buah contoh konkrit bagaimana cinta yang terjalin lambat dan pupusnyapun akan lambat, bahkan Rabi’ah mendeskripsikan cintanya tersebut sampai pada penghujung hidupnya. Cinta yang dia berikan hanya kepada Dzat yang berhak menerima cintanya dan mencintainya.
Tentunya untuk menempuh tingkatan ini banyak sekali tahap – tahap yang harus dilalui sebelumnya dan hal tersebut bias diraih dengan model tasauf apapun baik tasawuf irfani dengan kerangka berfikir irfaninya, atau tasawuf akhlaqi dengan tiga runtutan pensucian dan penggabungan hubungan imanen dan transendennya lewat takhalli, tahalli dan tajalli. Atau bahkan dengan konsep pemikiran tasawuf falsafi. Semua itu yang terpenting adalah usaha bagaimana seseorang tersebut untuk benar – benar memadu cinta dengan Tuhannya.
Sebab, cinta merupakan kunci awal seseorang untuk melakukan sesuatu apapun. Karena sesuatu apapun ketika dilandasi dengan cinta maka tidak akan ada yang tidak bias dilalui dengan susah. Sebab seorang pecinta pasti akan melakukan apapun untuk apa yang dicintainya. Apalagi cinta yang akan kita tuju adalah cinta yang sejatinya cinta yang memang benar – benar harus kita tuju. Yaitu cinta kepada Dzat yang telah mengajarkan cinta kepada kita sebagai seorang pencari cinta.
DAFTAR PUSTAKA
Al Aziz S, Saifulloh Muhammad., Ust., Drs., Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, 1998, Terbit Terang, Surabaya.
Ad – Daironi, Abdul Aziz., Toharotu al Qulub, 2001, Al haromaini Maktabah, Jeddah.
Bya, Asfa Davy., Jejak Langkah Mengenal Allah cet. IV, 2006, Maghfirah Pustaka, Jakarta.
Departemen Agama RI, Al Qur’an & Terjemahnya, 2005, CV. Wicaksana, Semarang.
Jamil, M., Drs., H., M.A., Cakrawala Tasawuf Sejarah, Pemikiran & Kontektualitas, 2004, Gaung Persada Press, Ciputat, tangerang.
Ibn Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak [Tahdib al Akhlaq], _________, Penerbit Mizan, Jakarta.
Nata, Abuddin., Prof., Dr., H., M.A., Akhlak Tasawuf cet.III, 2003, Grafindo Persada, Jakarta.
Rakhmat, Jalaluddin., Renungan – Renungan Sufistik cet. XX, 2000, Penerbit Mizan, Yogyakarta.
Riyadi, Selamet. D., Sufisme Klasik Menelusuri Tradisi Teks Sufi, 2003, Mimbar Pustaka, Bandung.
Sells, Michael A., Early Islamic Mysticism, 1996, Paulist Press, New Jersey.
Siregar, A.Rivay., Prof., H., Tasawuf dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, 1998, Rajawali Press, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar