Remaja Dan Pacaran
BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik setiap fase-fase perkembangan. Dalam hal ini pemakalah merasa tertarik untuk mengetahui karakteristik perkembangan fase remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan pada fase remaja, serta problematika pacaran pada masa remaja, maka dengan ini pemakalah mengambil judul Pacaran Dunia Remaja -Menyoal Pacaran Para Remaja Dari Berbagai Sudut Pandang-.
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mandiri yang diberikan oleh dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan Ibu Dra. Hj. Tati Nurhayati M.A serta bertujuan untuk memenuhi atau menjawab rasa penasaran yang begitu kuat untuk mengetahui lebih dalam tentang pacaran dalam dunia remaja yang sudah menjadi trend yang “seperti” wajib dilakoni oleh para remaja.
Psikologi perkembangan adalah ilmu yang luas yang saling berkesinambungan antara setiap fase-fase perkembangan agar masalah penelitian leih terfokus kepada tujuan penelitian dan tidak terlalu luas, maka dengan ini pemakalah membatasi masalah penelitian hanya pada ruang lingkup pacaran para remaja saja saja.
Sebelum lebih jauh kepada masalah yang akan dibahas, untuk lebih memperjelas dan lebih mengenal sebelum langsung kepada masalah inti dalam hal ini pemakalah mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1.Pengertian psikologi perkembangan
2.Karakteristik perkembangan fase remaja
3.Pembahasan atau analisis data yang diperoleh tentang pacaran.
4.Metode Penelitian
Pada makalah ini, pemakalah mencoba mamaparkan beberapa aspek tinjau rentang dunia pacaran para remaja baik melalui beberapa buku atau tinjauan langsung melihat beberapa fakta yang terjadi di sekitar lingkungan pemakalah.
Ketertarikan pemakalah terhadap masalah pacaran para remaja merupakan bentuk kesedihan pemakalahn khususnya terhadap hiruk pikuknya glamour kehidupan para remaja yang mengartikan pacaran dengan tanpa batasan dan bahkan sering kali kebablasan. Makalah ini bertujuan untuk kembali meredefinisi pacaran dalam artian yang sewajarnya, walaupun dalam batasan – batasan agama hal ini sama sekali tidak pernah ada yang memperbolehkannya.
Semoga makalah ini bisa menjadi makalah yang diterima sebagai pemenuhan tugas mandiri mata kuliah psikologi perkembangan dan besar harapan pemakalah agar makalah ini bisa bermanfaat dan dimanfaatkan dengan baik.
BAB II
PEMBAHASAN
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DAN REMAJA
A. Pengertian Psikologi Perkembangan Dan Makna Remaja
a. Psikologi Perkembangan
Psikologi Perkembangan sendiri yaitu cabang daripada ilmu psikologi yang mempelahari tentang perkembangan kejiwaan manusia sejak masa pranata sampai menjelang masa kematian yang perkembangan kejiwaan tersebut juga sangat berhubungan dengan kondisi pertumbuhannya.
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku. ( J.P. Chaplin, 1979 ).
Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. ( Ross Vasta. dkk, 1992 ).
b. Remaja
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).
Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa. Biasanya remaja belum dianggap sebagai anggota masyarakat yang perlu didengar dan dipertimbangkan pendapatnya serta dianggap bertanggung jawab atas dirinya. Terlebih dahulu mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kapasitas tertentu, serta mempunyai kemantapan emosi, sosial dan kepribadian. Dalam pandangan Islam seorang manusia bila telah akhil baligh, maka telah bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. Jika ia berbuat baik akan mendapat pahala dan apabila melakukan perbuatan tidak baik akan berdosa. Masa remaja merupakan masa dimana timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fakir menjadi matang. Namun masa remaja penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang.
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22 tahun. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa.
B. Ciri Ciri Masa Remaja
a) Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke peralihan masa dewasa.
b) Masa remaja sebagai periode perubahan.
c) Masa remaja sebagai usia bermasalah.
d) Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
e) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.
f) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
g) Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatiannya terpusat pada dirinya.
C. Alasan Berpacaran
Berikut ini adalah beberapa alasana mengapa remaja ingin berpacaran :
1) Hiburan Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar pasanganya mempunyai berbagai keterampilan sosial yang dianggap penting oleh kelompok sebaya, yaitu sikap baik hati dan menyenangkan
2) Sosialisasi
Kalau anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan kencan, maka laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin menjadi anggota kelompok dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok
3) Status
Berkencan bagi laki-laki dan perempuan, terutama dalam bentuk berpasangan tetap, memberikan status dalam kelompok sebaya, berkencan dalam kondisi demikian merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam kelompok sebaya.
4) Masa Pacaran
Dalam pola pacaran, berkencan berperan penting karena remaja jatuh cinta dan berharap serta merencanakan perkawinan, ia sendiri harus memikirkan Sungguh-sungguh masalah keserasian pasangan kencan sebagai teman hidup.
5) Pemilihan Teman Hidup
Banyak remaja yang bermaksud cepat menikahi memandang kencan sebagai cara percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.
Selain beberapa alasan di atas juga masih bayak alasan lain lagi mengenai mengapa remaja berpacaran atau tepat ya memilih untuk pacaran diantaranya yang ramai terjadi dikalangan pelajar atau mahasiswa yaitu sebagai penyemangat dalam belajar atau sebagai pemberi support agar lebih giat dan rajin dalam menjalankan sekolah atau perkuliahan. Dan hampir 75% mahasiswa yang berpacaran mempunyai alasan seperti itu.
D. Kebutuhan Remaja
Disamping itu faktor kebutuhan remaja juga menjadi hal atau bagian yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pemenuhan agar masa perkembangan para remaja benar – benar berjalan dengan lancar dan akhirnya menghasilkan input yang juga benar – benar bisa diharapkan masa depannya. Diantara beberapa kebutuhan remaja antara lain :
1) Kebutuhan akan pengendalian diri
2) Kebutuhan akan kebebasan
3) Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4) Kebutuhan akan penerimaan sosial
5) Kebutuhan akan penyesuaian diri
6) Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial
E. Konflik dan Problematika Remaja
S elain beberapa faktor kebutuhan pada remaja, ada beberapa konflik yang juga kerap terjadi pada diri remaja yang memungkinkan sekali akan menjadi penghambat bagi masa pekembangan mereka, antara lain :
1) Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka
2) Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
3) Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.
4) Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
5) Konflik menghadapi masa depan.
F. Tugas - Tugas Perkembangan Remaja
William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut :
{ Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
{ Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas.
{ Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok.
{ Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
{ Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
{ Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai. Prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
{ Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.Masa - Masa Remaja
G. Masa - Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut.
1) Masa praremaja (remaja awal)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a) negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
2) Masa remaja (remaja madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorong untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang menilai, pantas dijunjung tinggi dan di puja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai dewa remaja.
Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita hidup itu dapat di pandang sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan nilai-nilai kehidupan tersebut adalah pertama, karena tiadanya pedoman, si remaja pedoman, si remaja merindukan sesuatu bayang dianggap bernilai, pantas dipuja walau pun sesuatu yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Kedua objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yang dipandang mendukung nilai-nilai tertentu (jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif, mengagumi, dan memujanya dalam khayalan.
3) Masa remaja akhir
Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
4) Masa Usia Kemahasiswaan
Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup.
H. Karakteristik Perkembangan Remaja
Seiring perkembangan dan pertumbuhan fisik, terjadi pula perubahan dan perkembangan di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak-kanaknya telah berakhir, berganti dengan kelenjar endokrin yang memproduksi hormon, sehingga menggalakan Pertumbuhan organ seks yang tumbuh menuju kesempurnaan.
Organ seks menjadi besar disertai dengan kemampuannya untuk melaksanakan fungsinya. Pada remaja putri terjadi pembesaran payudara dan pembesaran pinggul. Di samping itu meningkat pula dengan cepat berat dan tinggi badan. Sedangkan pada remaja pria mulai kelihatan (membesar) jakun di lehernya dan suara menjadi sengau / besar. Di samping itu bahunya bertambah lebar dan mulai tumbuh bulu di ketika dan di atas bibir atasnya (kumis). Satu tanda Kematangan seksual dengan jelas pada remaja putri tetapi hanya diketahui oleh yang bersangkutan saja, yaitu terjadinya datang bulan / haid dan pada remaja putera mimpi basah. Tanda-tanda permulaan Kematangan seksual tidak berarti bahwa secara langsung terjadi kemampuan reproduksi.
I. Penyimpangan dan Kenakalah Remaja
Seperti disebutkan pada pembahasan sebelumnya bahwa masa remaja merupakan msa yang sangat riskan da rentan terhadap beberapa penyimpangan dan kenakalan. Pada bagian ini akan mencoba memaparkan bberapa bagian kecil daripada penyimpangan dan kenakalan remaja yang memang sudah terjadi dan menjadi kebiasaan umum oara remaja di masyarakat, diantaranya yaitu :
1) Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
2) Kecanduan akan Narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS
3) Kecanduan Alkohol / minuman keras.
4) Tawuran.
5) Sering berkunjung ke diskotik.
6) Menjajakan diri kepada pria hidung belang.
Kenakalan remaja tersebut terjadi buakn tanpa faktor, akan tetapi semua itu terjadi tentu saja mempunyai banyak faktor yang memungkinkan remaja berbuat seperti itu. Berikut ini adalah tabel tntang mengapa para remaja bisa berbuat penyimpangan dan kenakalan pada masanya.
Tabel Faktor Penyebab Penyimpangan & Kenakalan Remaja

Tabel tersebut merupakan pemaparan beberapa faktor penyebab terjadinya penyimpangan dan kenakalan remaja, baik faktor interen maupun eksteren. Oleh sebab itu perlu diketahui agar bagaimana caranya agar meminimalisir seminimal mungkin beberapa faktor yang bisa menimbulkan gejala dalam penyimpangan dan kenakalan remaja tersebut, terutama perlu perhatian khusus daripada lingkungan sosio-psikologis remaja tersebut.
BAB III
PACARAN DUNIA REMAJA
“Menyoal Pacarana Para Remaja dari Berbagai Sudut Pandang”
Sudah menjadi qodrat manusia untuk hidup berpasang – pasangan dan mencari pasangan. Aturan agamapun menghalalkan untuk mencari pasangan sesuai dengan apa yang dikehendakai, walau memang secara hakikatnya pasangan tersebut sudah menjadi ketentuan yang sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.
Bukan hal yang aneh juga apabila banyak diantara manusia yang berburu mencari cinta mereka dengan berbagai ekspresi dan gaya mereka masing – masing tentunya. Pencarian tersebut kerap kali terjadi pada masa remaja, masa dimana pada masa tersebut merupakan masa tengah antara seorang anak menuju kedewasaan. Para remaja biasa mengekspresikan pencarian tersebut dengan caa pacaran, pacaran menurut versi mereka tentunya sebab perkembangan intelektual mereka pada saat itu cenderung mendorong mereka kepada perbuatan yang menurut mereka pantas dan rasional walau terkadang berbenturan dengan aturan.
Pacaran bukan hal yang aneh dan asing untuk dibahas, bahkan ada sekelumit plesetan bahwa kalau remaja belum pacaran berarti remaja tersebut belum bisa dikatakan sebagai remaja. Seolah pacaran merupakan sebuah syarat untuk menyandang gelar remaja. Apa benar dengan plesetan tersebut? Anehnya lagi, plesetan tersebut seprti menjadi undang – undang dasar bagi para remaja untuk mendeklarasikan keremajaan mereka.
Pada pembahasan kali ini pemakalh akan mencoba memaparkan aspek pacaran dalam berbagai sudut pandang seperti aspek sosio masyarakat, agama dan tentunya aspek pemakalah yang juga seorang remaja. Untuk lebih jelasnya berikut uraiannya :
Agama Islam Berbicara Tentang Pacaran
… Omnia Vincit Amor : et nos cedamus Amori …
Bagi para remaja tentunya kata mutiara di atas sudah sering menjadi jargon atau bahkan tema surat cinta yang akan dikirim untuk sang kekasih. Jargon di atas berarti kurang lebih “Cinta menaklukan segalanya dan kita takluk demi cinta” tapi bagaimana sebenarnya pandangan agama Islam tentang pacaran?
Agam Islam merupakan agama yang benar – benar diakui ke-otentik-kannya. Agama Islam merupakan agama penebar kasih sayang dan cinta, tapi dalam ajaran Islam tentunya mempunyai bagaiman aturan tentang hubungan antara pria dan wanita. Namun demikian Islam sama sekali bukan ajaran yang ekstrim yang langsung memvonis dan berlaku sinis terhadap suatu peristiwa, ada konsep tabayyun[1] dan tawazun[2] dalam ajaran Islam.
Berbicara tentang pacaran, Islam sangat tegas tentang ini seperti yang tercatat dalam kitab An Nizham Al Ijtima’I Fil Islam karangan Asy Syeikh Taqiyuddin An Nabhani beliau menyebutkan tentang bagaimana tat pergaulan dan hubungan sesama muslim yang tentunya berbeda jenis kelamin dengan sangat gamblang. Dalam Islam selama hubungan itu memang untuk kemaslahatan dan tidak melanggar aturan syari’at itu sah – sah saja, tapi jarang sekali yang dapat berhubungan seperti demikian atau bakan terkesan langka.
Pacaran dalam konteks Islam sama sekali tidak pernah ada, ada juga yang berpendapat hubungan apapun apabila terdapat percampuran antara pria dan wanita tanpa muhrim itu adalah haram.
Pada dasarnya, konteka agama Islam dalam memandang hal ini tergantung kepada situasi dan kondisi serta arah tujuan dan maksud yang ada dibalik perbuatan itu.
Tetapi apabila hubungan tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, maka hal yeng terpenting adalah menjauhi dan jagan coba untuk mendekatinya[3]. Sebab menjauh untuk mendapatkan kebaikan jauh lebih baik daripada mendekat untuk mendapatkan kebaikan yang disertai dengan keburukan[4].
Pandangan Masyarakat Tentang Pacaran
Ketika berbicara tentang bagaimana pandangan masyarakat tentang pacaran, pemakalah menemukan bayak sekali hal yang menarik dan dapat pemakalh simpulkan bahwa masyarakat mempunyai 3 opini tentang bagaimana mereka menyikapi fenomena pacaran yang terjadi khususnya dikalangan para remaja mereka. Yaitu :
1. Sebuah Keharusan Bagi Remaja
Pendapat pertama ini sangat heboh menurut pemakalah, sebab golongan ini menganggap bahwa belum bisa dikatakan remaja apabila belum pernah pacaran atau belum pernah memutuskan pacar. Alasan mereka adalah bahwa pacaran merupakan kegiatan normal yang harus dilalui pra remaja sebagai bahan dan bekal pendewasaan mereka dalam bersikap dan belajar bertanggung jawab sebelum mereka menuju kursi pelamianan.
Ada juga yang berpendapat sebagai penjajakan untuk membangun keharmonisan rumah tangga nanti dan agar bisa saling mengetahui karakter masing – masinng diantara keduanya.
2. Kesalahan Besar Remaja
Golongan masyarakat yang kedua cenderung memandang terhadap efek atau dampak buruk daripada pacaran itu sendiri, bagi mereka pacaran adalah suatu kesalahan besar para remaja yang semestinya hanya dan cukup mereka rasakan setelah menikah saja. Sebab bagaianapun menurut mereka pacaran itu sangat tidak benar dan tidak dibenarkan oleh tata aturan yang berlaku dimasyarakat dan agama.
Mereka memandang bahwa konsep pacaran yang sekarang menjadi sebuah trend dikalangan remaja sering kali disalah artikan dan cenderung menuju perbuatan seksual dan kepuasan sesaat yang tanpa adanya ikatan yang sah.
Opini mereka tetap beranggapan bahwa pacaran adalah kesalahan terbesar remaja yang saat ini sufah sangat minim sekali pengetahun mereka tentang agama dan seksologi.
3. Wajar dan Biasa
Pendapat ini diwakili oleh mereka yang memang memandang bahwa pacaran sudah menjadi trend yang terlanjur menjadi undang – undang bagi para remaja. Golongan ini memandang bahwa pacaran wajar dan biasa bagi remaja, akan tetapi yang tepenting bagaimana saja kita menyikapi dan tetap berpandangan positif serta tidak lepas terus memantau kehidupan pacaran mereka, sebab tidak semua pemuda berpikiran kotor dan juag tidak semua pemuda mempunyai pemikiran yang matang terhadap sikap mereka.
Intinya meurut mereka peran lingkungan dalam hal ini masyarakat merupakan sebuah keharusan sebagai bukti kepedulian terhadap generasi muda mereka. Sebab pemuda terbentuk sesuai dengan karakter dimana dia tinggal dan bergaul. Seperti kata pepatah “dimana bumi diinjak, disitu langit dijunjung ”.
Pacaran Versi Pemakalah
Mungkin jika harus memilih salah satu dari beberapa pendapat dan pandangan di atas, pemakalah lebih cenderung terhadap pendapat masyarakat golongan ketiga yaitu yang berpendapat bahwa pacaran merupakan suatu kewajaran dan kebiasaan dalam dunia para remaja. Akan tetapi dalam hal ini pemakalah juga tidak menafikan beberapa aturan agama yang tentunya harus menjadi prioritas utama sebagai falsafah hidup.
Mungkin dengan terus memupuk pengetahuan mereka tentang konsep kesadarn beragama dan penghayatan serta pengamalannya ditambah juga dengan pengajaran beberapa hal yang memang selayaknya sudah diketahui oleh para remaja tentang keremajaan mereka it harus terus dilakukan oleh pihak – pihak yang mempunyai kewajiban untuk itu seperti mungkin apabila di tingkat pemerintah peranan program Mentri Kepemudaan sangat dituntut untk hal ini, atau juga peran para ulama yang juga seharusnya memikirkan hal ini bukan hanya meikirkan pengajian sebab hal ini juga merupakan permasalahan kemaslahatan ummat, para pendidik guru atau dosen juga mempunyai tanggung jawab untuk hal ini, peran serta masyarakat juga sangat menentukan bagaimana membentuk kepribadian para remaja lingkungan mereka, dan yang paling utama adalah peran orang tua dalam membimbing dan mengarahkan putra – putri mereka untuk dapat menjadi generasi yang menag benar – benar sesuai apa yang diharapkan bangsa dan agama ini.
Akan tetapi terlepas daripada hal itu, remaja itu sendiripun harus mau berubah dan merubah diri untuk menuju kedewasaan sikap agar dia benar – benar dianggap berhasil menjadi seorang remaja. Sebab faktor eksteren tidak akan berarti apa – apa apabila remaja itu sediri tidak mempunyai kesadaran untuk berubah.
Harapan pemakalah semoga para remaja mau untuk berubah dan merubah diri untuk menyongsong masa depan yang cerah. Yakin dengan usaha pasti akan sampai. Yakin Usaha Sampai.
BAB IV
P E N U T U P
Kesimpulan & Saran
Dari uraian tersebut di atas dapatlah kiat ketahui bagaimana definis daripada psikologi dan psikologi perkembangan serta siapa dan bagaimana remaja itu. Kita juga dapat mengetahui bagaimana pacaran dan kenapa mereka berbuat demikian. Serta bagaimna pandangan beberapa sudut pandang tentang hal tersebutpun sudah kita bahas secara singkat.
Perlu diperhatikan satu hal, bahwa remaja adalah harapan, harapan untuk membangun masa depan. Apabila rusak seorang reamaja maka masa depanpun akan hancur dan fatal akibatnya. Remaja adalah raja pada masanya, mereka adalah tangan tuhan yang bisa mencipta segala keajaiban dan merusak segala tatanan yang sudah ada. Sebab itulah cintai dan jaga para remaja agar mereka menjadi insan pencipta yang benar – benar diharapkan bangsa dan agama. Remaja adalah dewa yang disembah oleh keangkuhan mereka sendiri yang mereka sebut bahwa akal mereka adalah tuhan bagi mereka, sebab itu arahkan mereka dan ajarkan mereka siapa tuhan mereka sebenarnya, Tuhan yang membuat dan menggerakkan akal mereka serta Tuhan yang akan menghancurkan kenagkuhan mereka jika tidak megakuinya.
Kemudian, dari hasil penelitian yang dilakukan pemakalah dengan cara membagikan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang masalah penelitian kepada 50 responden, dapat disimpulkan bahwa :
1. Responden yang menyatakan setuju dengan pacaran 40%, tidak setuju 10% dan yang menyatakan biasa dan wajar 50%.
2. Sebagian besar responden menyatakan pernah mempunyai pacar atau berpacaran.
3. Responden cenderung memandang positif efek pacaran bagi para remaja.
4. Sebagian besar responden menyatakan pertama kali mempunyai pacar pada usia <>
5. Walau demikian, responden sebagain besar dengan jujur memaparkan belum pernah tersentuh dengan hubungan yang tidak dibenarkan oleh aturan dan tuntunan agama.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 50 responden, pemakalah menyadari bahwa ada perbedaan pandangan hidup, pemakalah sangat menghargai kepada mahasiswa atau responden yang menyatakan tak setuju hingga pacaran dan yang menyatakan setuju hingga pacaran ataun juga yang menyatakan kewajaran bagi remaja untuk berpacaran atau tidak. Maka dengan ini, pemakalah ingin memberikan saran-saran kepada pembaca yang mungkin bisa bermanfaat, diantaranya:
Jadikan agama dan keimanan sebagai alat untuk membatasi atau mengontrol diri dalam berpacaran agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas atau seks bebas.
Kepada para responden yang menyatakan setuju atau tidak dengan pacaran diharapkan agar tetap mempunyai sikap kedewasaan tabayyun dan tawazun dalam menyikapi perbedaan tersebut.
Bagi Responden yang memang mempunyai pacar diharapkan agar bisa menjaga diri, kehormatan, kesucian dan nama baik dirinya sendiri, keluarga, agama, almamater, daerah ataupun agama yang elekat erat pada dirinya.
bagi para remaja teruslah berkarya dan berusaha denga kepintaran pemikiran kalain agar kelak bisa jadi generasi yng dibanggakan dan bisa mengangkat derajat nagsa dan agama. Dan terutama Say No to Drugs and Free Sex. And think Allah with you’re forever, whenever and however.
DAFTAR PUSTAKA
& An Nabhani, As Syeikh Taqiyuddin., An Nizham aL Qur'an Ijtima’I Fil Islam, Daarul Ummah, 1990, Beirut Lebanon.
& B. Hur lock Elizabeth, Psikologis Perkembangan, Erlangga, 1999, Jakarta.
& Darajat Zakiah, Remaja Harapan dan Tantangan, PT. Remaja Rosdakarya Offset.1995, Bandung.
& Fauzi,Ahmad,Drs.,H., Psikologi Umum, Penerbit Pustaka Setia, 2004, Bandung.
& _______________, aL Qur'an & Tarjamah, Departemen Agama RI, CV.Wicaksana, 2004, Semarang.
& Jalalain, Imam., Tafsir aLJalalain, Darr eL Maktabah, 1996, Semarang.
& Januar, M.Iwan., Surga Juga Buat Remaja Lho…!! –kado spesial buat remaja-, Gema Insani Press, 2003, Jakarta.
& Kartini,Kartono.,DR., Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), Penerbit CV. Mandar Maju, 1995, Bandung.
& Sarwono,Sarlito Wirawan,DR., Pengantar Umum Psikologi, Penerbit Bulan Bintang, 1982, Jakarta.
& Solihin,Oleh., Jangan Jadi Bebek Jilid 1 –kado spesial buat remaja-, Gema Insani Press, 2002, Jakarta.
& Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Remaja Rosdakarya 2004, Bandung.
& Zulkifli L.,Drs., Psikologi Perkembangan, Rosdakarya, 1986, Bandung.
[1] Konsep pencarian penjelasan terlebih dahulu sebelum memvonis
[2] Konsep keseimbangan dalam mengambil suatu keputusan dalam segala masalah
[3] Q.S. aL Qur'an Israa tentang larangan mendekatai perbuatan (yang dapat menimbulkan) zina.
[4] Seperti Kaidah Ushul Fiqih “darkul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”
Komentar
Posting Komentar