Puasa & Kesalehan Sosial
Puasa dan Kesalehan Sosial
PKPU Online
Oleh: Dr. K.H. MIFTAH FARIDL
Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Ketakwaan yang menjadi sasaran utama pelaksanaan rukum Islam yang keempat ini memiliki dimensi pembinaan yang komprehensif, baik bagi pembentukan kualitas hidup individual maupun bagi upaya penciptaan iklim sosial.
Dalam
Pesan utama ayat ini, di satu sisi, dapat dilihat sebagai janji Allah yang menyatakan bahwa jiwa sesuatu masyarakat beriman dan bertakwa, maka mereka akan memperoleh keberuntungan. Di sisi lain, pesan utama ayat ini juga mengilustrasikan hubungan kausalitas antara iman−takwa dengan kesejahteraan hidup para pemeluknya.
Lalu, bagaimana iman−takwa ini dapat menjadi pemandu serta nilai−nilai yang mendorong manusia untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup seluruh alam? Takwa, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai keadaan kualitas jiwa seseorang (individu) yang membimbing dan memandu hidupnya dalam mewujudkan kondisi sosial (kolektif) yang makmur dan sejahtera bagi seluruh alam semesta. Kesejahteraan kolektif ini akan terwujud dengan sendirinya jika setiap individu telah melaksanakan ketentuan−ketentuan iman−takwa secara utuh dan benar. Bahkan, seperti diisyaratkan oleh kandungan ayat di atas, keberkahan yang datang dari langit dan bumi itu hanya akan lahir dari keimanan dan ketakwaan.
Untuk melihat dimensi−dimensi ketakwaan seseorang, khususnya dalam kaitannya dengan ukuran−ukuran kesalehan individu dan sosial, Alquran (2:2−4) menunjukkan sekurang−kurangnya
Pertama, memiliki semangat spiritualitas yang diwujudkan dalam sistem kepercayaan kepada sesuatu yang "gaib", serta berketuhanan dan pengertian beragama atau menganut sesuatu kepercayaan agama. Masyarakat yang memiliki kualitas kesalehan sosial itu adalah masyarakat
Kedua, terikat pada norma, hukum, dan etika seperti tecermin dalam struktur ajaran salat. Salat juga mengajarkan kepada para pelakunya untuk terbiasa disiplin. Disiplin dalam hidup sesuai dengan ketentuan−ketentuan yang berlaku. Artinya, masyarakat yang memiliki kesalehan sosial itu adalah mereka yang konsisten menegakkan hukum dan hukum menjadi aturan main.
Ketiga, memiliki kepedulian sosial yang salah satu perwujudannya ditandai dengan kesanggupan berbagi terhadap golongan yang lemah. Keadilan sosial itu harus diwujudkan secara bersama oleh seluruh komponen masyarakat dan bukan hanya oleh penguasa.
Keempat, memiliki sikap toleran sebagai salah satu perwujudan dari keimanan terhadap adanya pengikut kitab−kitab suci selain kitab sucinya sendiri. Ajaran ini juga sekaligus mengisyaratkan adanya pluralitas kehidupan, baik pada aspek agama dan kepercayaan maupun pada aspek sosial budaya lainnya. Dinamika masyarakat juga akan terus berubah membentuk struktur sosial yang semakin beragam. Di sinilah arti penting mengembangkan sikap toleran (tasamuh), khususnya dalam menyikapi secara terbuka perbedaan−perbedaan sebagai suatu keniscayaan.
Terakhir, berorientasi ke depan sebagai salah satu perwujudan dari keimanan terhadap adanya hari akhir. Masyarakat yang memiliki dimensi kesalehan sosial itu adalah mereka yang berorientasi ke depan, sehingga akan selalu mementingkan "kerja keras" untuk membangun hari esok yang lebih baik (PR/pkpu)
Puasa Dan Kesalehan Sosial
Jaringan Islam Kampus
Oleh: Mhd. Noor Sitorus
Menariknya, padatnya ragam kegi -atan yang menjejali bualn ramadhan tersebut, tenyata tidak berimplikasi langsung terhadap tatanan keshalehan sosial yang diharapkan. Sering kali ternyata semarak ramadhan tersebut lalu sekonyong-konyong tergilas habis tak tersisa sejalan dengan berakhirnya ra- madhan tersebut. Substansi ramadhan sebagai “bulan pembakar” dan “ Bulan pendidikan” bagi kehidupan tampaknya tereduksi hanya pada praksis individualistik yang egois
Puasa yang menjadi ritual pamungkas dalam melahirkan as-shooim (orang yang menjalankan ibadah puasa) ter- nyata gagal menjalankann misinya meskipun diklaim telah dilaksanakan sebulan penuh. Ritual keagamaan (pua- (puasa) yang dijalankan berorientasi pada kepentingan transendentalnya dan melupakan aspek soilogies yang sebenarnya justru menjadi substansi yang amat sangat diperlukan dalam ibadah tersebut.
Bila kita mencoba mencermati fenomena ini, sering kali kita akan menemukan di mana sebagian orang atau figure-figur yang teridentifikasi sebagi pelaku perbuatan moral ternyata menjadi begitu alimya ketika ramadhan datang, naifnya, para selebriti yang seringkali digambarkan sebagi komunitas yang mengalami dekadensi moral justru berubah menjadi penganjur kebaikan watak-watak yang religius ketika bulan ramadhan datang.
Mencoba memasuki lebih jauh tentang fenomena ini, kita dapat menarik kesimpulan akan adanya pengaruh logi- ka lapitalistik terhadap semmaraknya ritual keagamaan pada bulan ramadhan tersebut. Paket-paket ramadhan yang disediakan tampaknya bukan lahir atas kesadaran untuk mengisi bulan tersebut dengan berbagi kebaikan, namun justru memiliki dimensi kalkulatif matematis yang terorganisir dalam pragmatisme dan materialisme, bulan ramadhan dianggap sebagai pasar subur untuk menjual komoditas religius, naïf memang. Dengan ini terasa piciklah untuk menuntut perbaikan diri setelah ramadhan pada diri dan komunitas yang selama ini tergambar di hadapan kita.
Sebenarnya, posisi puasa semestinya justru hadir sebagai penggilas keadaan-keadaan yang seperti ini. Namun karena puasa sering kali dipahami dan dilakoni sebagai ritual formalistik legal saja, maka apa yang disebut sebagai substansi misi dari puasa itu pastilah tak
Dari keadaan yang tergambar selama ini, ada beberapa pandangan yang mesti kita luruskan berkenaan dengan puasa. Yang pertama yakni pemahaman bahwa puasa bukanlah ritual yang hanya menjaga kepentingan pembersihan diri secara individualistik, puasa bukanlah psikoterapi tunggal yang akan dikatakan telah lahir kembali setelah tidak makan dan minum dari mulai Shubuh sampai maghrib, namun puasa adalah usaha membangun kesadaran mental untuk dapat lebih peduli pada kondisi sosial melalui pengekangan keinginan individual, artinya, puasa bernuansa individual tetapi hakikatnya berdimensi sosial.
Selain itu, puasa juga harus dipahami sebagai ritual yang kontinuitasnya bukanlah selama bulan ramadhan saja, faktanya sering kali orang melakukan puasa selama sebulan, lalu mengklaim bahwa puasanya telah dilaksanakan dengan sempurna, padahal, puasa hanyalah ritual awal yang penilaiannya justru dilakukan pada sebelas bulan setelah bulan ramadhan. Pemahaman kacau inilah yang sering kali mengakibatkan orang yang puasa sebulan penuh lalu merayakan Idul fitri dengan berfoya-foya tanpa mau melihat kondisi sosial yang sebenarnya adalah ujian dari puasanya selama satu bulan tersebut.
Melalui perubahan persepsi tentang puasa ini, diharapkan akan melahirkan puasa yang benar-benar menciptakan komunitas yang sadar akan kepedulian sosial dimana ia berada. Rangkaiannya adalah dengan memahami bahwa puasa itu adalah ibadah personal yang berimplikasi sosial. Dengan begitu, tampaknya cita-cita menjadikan puasa yang humanistik transendental bukanlah cita-cita kosong. Sebab dengan memahami puasa sebagai ibadah yang humanistik transendental maka orang yang berpuasa akan memahami bahwa puasanya akan bernilai dihadapan Tuhan (good transendetally) jika hubungan humanistisnya (hablumminan- naas) berjalan dengan baik.
Puasa dan Kesalehan Sosial
Oleh: M Afifuddin Muchith
Mahasiswa Pasca Sarjana Fak Sosial Science IIU
Berbicara puasa maka orang akan langsung terbayang kepada sosok yang menahan lapar dan haus sejak fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari di ufuk barat. Upacara keagamaan ini merupakan sebuah ritual umat Islam yang lumrah dilakukan tiap tahun ketika menjelang bulan suci Ramadhan tiba. Ritual tahunan ini merupakan sebuah perayaan yang disambut dengan suka cita oleh segenap umat Islam di seluruh dunia. Karena bulan tersebut memang selalu menjanjikan berbagai hidangan akherat yang menggiurkan mulai dari ampunan dosa sampai pemburuan sebuah moment penting dan sangat berharga dari seribu bulan atau yang lebih dikenal dengan terma malam lailatul qadar.
Puasa merupakan salah satu pilar fundamental tegaknya bangunan Islam. Diantara motivasi dan cita-cita besar Allah mewajibkan umat Islam berpuasa adalah agar menjadi manusia yang bertaqwa kepadaNya. Kelebihan puasa dari ritual upacara ibadah lainnya dalam Islam adalah karena sifatnya yang pribadi dan tersembunyi alias tidak terlihat oleh pandangan kasat manusia. Berangkat dari sinilah, Allah dalam sebuah hadis qudsi di kitab Bukhori dan Muslim berfirman dengan tegas bahwa puasa adalah milikNya yang pribadi dan Ia pun akan memberikan pahala secara spesial dan pribadi kepada hamba-hambanya yang diterima amal ibadah puasanya.
Tingginya gairah beramal shaleh umat Islam di bulan suci Ramadhan ini memang luar biasa, sehingga orang tidur pun punya daya nilai ibadah apalagi orang yang benar-benar konsen dan fight mengerjakan dan mengumpulkan pundi-pundi amal saleh untuk tabungan amal di hari kelak nanti. Namun begitu, rata-rata umat Islam masih suka tergoda dan terjebak dengan nuansa hingar bingar pentas seni "kosmetik" dan "gincu" bulan suci ini, karena mereka belum bisa menjiwainya dalam perilaku shalehnya di bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Ini memang kekurangan umat Islam dalam beragama yang masih terpesona dengan warna “gincu” teori ekonomi, alias suka menjual barang-barang mewah di pasar yang menjanjikan provit yang lebih dan belum mengarah kepada bentuk nilai-nilai keikhlasan yang murni dan rasa cinta kepada Allah.
Relasi Keshalihan Pribadi Dengan Keshalihan Sosial
Tidak diragukan nuansa perung kosong yang terbingkai dalam bentuk puasa akan selalu mendorong seorang hamba untuk tidak banyak melakukan aktifitas fisik yang berat dan lebih banyak memusatkan perhatiannya kepada sang Penciptanya, karena rasa perih dan haus yang dideritanya memang tidak memungkinkannya untuk banyak bergerak kecuali hanya komunikasi kontak batin antara sang hamba dan Penciptnya. Berangkat dari sinilah mengapa dimensi interaksi ibadah puasa begitu kental mewarnai pribadi muslim dengan Tuhannya. Elemen inilah yang menciptakan nuansa hubungan vertikal begitu menonjol dan nyaris melupakan atau bahkan memutus hubungan horisontal. Padahal kalau kita mau renungkan lebih mendalam, dimensi vertikal ini selalu akan berbanding lurus dengan dimensi garis horisontal.
Kentalnya nuansa individual seorang hamba dengan Tuhannya dalam dimensi ibadah puasa ini karena pesan tafsir yang banyak diadopsi kaum muslimin dari makna taqwa yang mengarah kepada makna kedekatan personal seorang hamba kepada Penciptanya. Ini merupakan sebuah makna konvensional taqwa yang banyak dipahami oleh umat Islam selama ini. Namun kalau kita mau membaca ulang makna taqwa yang terdapat pada surat al-Baqarah 177 maka ia punya makna yang lebih holistik dan komprehensif yang tidak hanya mengarah kepada dimensi vertikal hamba dan Tuhannya saja, akan tetapi punya dimensi garis horisontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, membebaskan budak (menyantuni orang dhuafa) sabar dalam menerima cobaan. Karena barometer kebajikan bagi Allah bukan diukur dari banyaknya interaksi pribadi hamba kepadaNya akan tetapi kebajikan yang bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial
Bulan Ramadhan ini sebenarnya punya maksud dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang shaleh tapi juga membentuk karakter building sebuah masyarakat yang shaleh dan kokoh. Karena puasa ini sebenarnya sarat dengan pesan etika keshalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong-menolong. Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.
Mengembalikan Fitrah Manusia
Diantara cita-cita Allah menciptakan manusia adalah agar saling mengasihi, menolong antar sesamanya dan menjauhi sifat egoisme. Dengan dibekali akal fikiran yang sehat serta hati nurani yang jernih, manusia diharapkan mampu menjadi pengayom yang adil terhadap semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Namun sayang antara cita-cita dan realita terkadang harus berbenturan. Karena sering kali cita-cita mulia ini tidak bisa tersampaikan dengan baik karena sifat dan ego manusia yang sudah dikuasai oleh nafsu syetan, sehingga lupa akan jati diri dan tugas yang diembannya. Kendati demikian, Allah tidak patah arang dan masih tetap menaruh harapan besar akan kembalinya fitrah manusia, karena manusia adalah makhluk yang dapat menerima peringatan dan mau kembali kepada jati diri sucinya.
Diantara media yang digunakan Allah untuk mengembalikan manusia kepada fitrah aslinya adalah puasa. Dengan media puasa ini, manusia diharapkan dapat ingat dan mau kembali kepada jati dirinya yang suci dan luhur dengan hadirnya kembali nilai-nilai kemanusian yang arif dan bijak. Ketika nilai fitrah manusia tersebut muncul kembali, maka nilai persamaan dan solidaritas atas penderitaan sesama makhluk hidup akan dapat hadir kembali mewarnai hari-hari anak Adam, seiring nilai-nilai yang diajarkan dalam media puasa.
Ketika manusia (muslim) sudah dapat menangkap nilai yang terkandung dalam puasa, maka diharapkan ia mampu membebaskan dirinya dari bayang-bayang egoisme dan menghayati kembali nilai-nilai fitrah suci dalam dirinya. Dengan demikian, maka ia sebenarnya telah tersadar akan posisi dirinya sebagai makhluk sosial sejati yang harus peka dengan problematika kehidupan sosial yang ada di sekitarnya, dalam arti tidak lagi berpangku tangan dan justru akan menjadi ringan tangan membantu sesamanya yang masih dirundung duka dan nestapa. Gambaran kepekaan sosial ini akan kita temukan dengan gamblang saat orang-orang yang berpuasa tersebut diperintahkan mengeluarkan zakat fitrah di penghujung akhir puasanya sebagai media penyempurna ibadah puasanya.
Ini merupakan bukti alangkah besarnya kepedulian Allah terhadap problematika sosial. Ia tidak hanya peduli terhadap kesalihan pribadi tapi lebih kepada kesalihan sosial sehingga Ia pun menggantungkan keabsahan kesalihan pribadi kepada kesalihan sosial.
Namun patut disayangkan, cita-cita puasa yang punya nilai kemanusian yang tinggi masih belum banyak disadari oleh insan yang berpuasa itu sendiri. Mereka masih saja terjebak dengan ritual upacara tahunan tersebut tanpa ada perubahan-perubahan yang mendasar pada perilaku kehidupan kesehariannya. Mereka hanya mengejar kesalihan pribadi tanpa ada ketersambungan sekali dengan kesalihan sosial. Fenomena ini memang bisa dipahami, karena masih jarang ulama atau intelektual yang membedah puasa dalam perspektif ibadah sosial.
Komentar
Posting Komentar