Ayat Tentang Ilmu Pengetahuan



PENDAHULUAN
AL-Qur’an telah merambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membentuk pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. Al-Qur’an menunjukkan bahwa materi bukanlah suatu yang kotor dan tanpa nilai, karena padanya terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia kepada Allah serta kegaiban dan keagungan alam semesta yang amat luas adalah ciptaan Allah dan al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban dan keghaiban, serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya.

Oleh karena itu al-Qur’an membawa manusia terhadap Allah melalui ciptaannya dan realitas kongkret yang terdapat di bumi dan di langit. Inilah sesungguhnya yang terdapat pada ilmu pengetahuan yang mana mengadakan observasi lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat mengetahui tentang segala hal yang telah diciptakan oleh Allah melalui observasi yang teliti dan terdapat hukum-hukum yang mengatur gejala alam dan al-Qur’an menunjukkan kepada realitas intelektual yang maha besar, yaitu Allah SWT, lewat ciptaannya.


Banyak orang beranggapan bahwa Al Qur’an hanay mentok disekitar bacaan saja, padahal lebih jauh daripada hal itu, Al Qur’an merupakan kitab tuntunan dan tuntutan yang harus dijadikan cara pandang serta pandangan hidup muslim sebab hanya Al Qur’an lah satu satunya kitab yang dijaga keasliannya dan keotentikannya hingga tak lagi bersinar mtahari di ujung timur.

Pada kesempatan kali ini, pemakalah akan mencoba sedikit mengurai beberapa hal yang menunjukan bahwa Al Qur’an sangat mengutamakan aspek Ilmu Pengetahan disbanding dengan Aspek lainnya, tetapi bukan berarti meninggalkan. Semoga banyak sedikitnya catatan ini dapat menjadi sebuah hkmah yang pantas untuk diteruskan dan diaplikasian dalam tataran praktis kehidupan sehari - hari. Semoga, Amiiin.

PEMBAHASAN
A.QS. Al-Mujadalah, 58 : 11

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

Artinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan keoadamu:”berlapang-lapanglah kamu dalam majelis”, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:”berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah, 58:11)

Selanjutnya berkenaan dengan ayat tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: Kata tafassahu pada ayat tersebut maksudnya adalah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan. Kata yafsahillahu lakum maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka. Kata unsuzyu maksudnya saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan kepada setiap orang yang datang. Kata yarfa’illahu ladzina amanu maksudnya Allah akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya.


Dari ayat tersebut dapat diketahui, hal sebagai berikut:  Pertama : Bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah saw, dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah saw. Yang diyakini bahwa dalam wejangannya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung. Kedua : Bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara demikian dapat menimbulkan keakraban diantara sesama orang yang berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah saw. Ketiga : Bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan akhirat.2 Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap orang Islam. Atas dasar inilah Rasulullah saw, menegaskan bahwa Allah akan selalu menolong hambanya, selama hamba tersebut selalu menolong sesama saudaranya.

Adapun arti potongan ayat dibawah ini adalah:
إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّخُوْا فِيْ الْمَجَالِسِ فَافْسَخُوْا Maksudnya adalah apabila kamu diminta berdiri selama berada di majelis Rasulullah saw, maka segeralah berdiri, karena Rasulullah saw terkadang mengamati keadaan setiap individu, sehingga dapat diketahui setiap keadaan orang tersebut, atau karena Rasulullah saw, ingin menyerahkan suatu tugas khusus yang tidak mungkin tugas tersebut dapat dikerjakan oleh orang lain. Berhubungan dengan hal yang demikian, maka bagi orang yang datang terdahulu di majelis tersebut tidak boleh mempersilahkan orang yang datang belakangan untuk duduk di tempat duduknya. Imam Malik, Bukhari, Muslim dan Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw, bersabda: La yuqimu al-rajulu min majlisi walakin tafassakhu wa tawassa’u. Yang artinya: seorang tidak sepantasnya mempersilahkan tempat duduknya kepada orang lain (yang datang belakangan). Tetapi cukup dengan memberikan kelapangan dan mempersilahkan lewat.

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا مِنْكُمْ، وَالَّذِيْنَ أُتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ maksudnya adalah bahwa Allah akan mengangkat orang mukmin yang melaksanakan segala perintahnya dengan memberikan kedudukan yang khusus, baik dari pahala maupun keadilan-Nya. Singkatnya bahwa setiap orang mukmin dianjurkanagar memberikan kelapangan kepada sesama kawannyaitu datang belakangan, atau apabila dianjurkan agar keluar meninggalkan majelis, maka segera tinggalkanlah tempat itu, dan jangan ada prasangka bahwa perintah tersebut akan menghilanhkan haknya. Melainkan merupakan kesempatan yang dapat menambah kedekatan pada Tuhannya, karena Allah tidakakan menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hambanya. Melainkan akan diberikan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat.

Sedangkan potongan ayat وَاللهُ بِمَا تَعءمَلُوْنَ خَبِيْرٌ maksudnya bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya, dan akan membalasnya amal tersebut. Orang yang baik akan di balas dengan kebaikan. Demikian pula orang yang berbuat buruk akan dibalas buruk atau diampuni-Nya.


Ayat tersebut diatas selanjutnya sering digunakan para ahli untuk mendorong diadakannya kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dengan cara menjunjung tinggi atau mengadakan dan menghadiri majelis ilmu. Orang yang mendapatkan ilmu itu selanjutnya akan mencapai derajat yang tinggi dari Allah.


B.QS. Al-Fathir, 35:27-28.

óOs9r& ts? ¨br& ©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ ;NºtyJrO $¸ÿÎ=tFøƒC $pkçXºuqø9r& 4 z`ÏBur ÉA$t6Éfø9$# 7Šyã` ÖÙÎ/ ÖôJãmur ì#Î=tFøƒC $pkçXºuqø9r& Ü=ŠÎ/#{xîur ׊qß ÇËÐÈ šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºxx. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# îƒÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ

Artinya :    Tidaklah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Fathir, 35:27-28)

Selanjutnya berkenaan dengan ayat tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: Alwanuha: warna-warnanya, seperti merah kuning, hijau dan lain sebagainya. Al-Judad: jamak dari juddah, artinya: jalan, yaitu jalan yang bermacam-macam warnanya, digunung dan semisalnya. Al-Gharabib: jamak dari ghirbib: hitam pekat. Orang mengatakan aswadu ghirbib (hitam pekat) abyadhu baqiq (putih cemerlang) asfaru faqi’ (kuning kemilau) dan ahmaru anim (merah membara). Pada ayat ini Allah menguraikan beberapa hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaannya yang oleh kaum musyrikin dapat dilihat setiap waktu yang kalau mereka menyadari pula ke-Esaan dan kekuasaan Allah yang Maha Sempurna itu. Allah menjadikan sesuatu yang beraneka ragam macamnya yang bersumber dari yang satu. Allah menurunkan buah-buahan yang beraneka ragam warna, rasa dan baunya. Sebagaimana yang kita saksikan buah-buahan itu warnanya ada yang kuning, ada yang merah dan sebagainya.


Kemudian dalam ayat (28) Allah menjelaskan tentang hal-hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaanya. Allah SWT, menciptakan binatang-binatang melata dan binatang ternak, yang bermacam-macam warnanya, sekalipun dari jenis-jenis yang satu. Bahkan ada binatang yang satu sering terdapat warna yang bermacam-macam. Tentang ulama atau orang-orang yang berilmu pengetahuan, Ibnu Katsir telah menafsirkan “tidak lain orang yang akan merasa takut kepada Allah itu hanyalah ulama yang ma’rifat yaitu mengenal Tuhan menilik hasil kekuasaan dan kebesarannya yang mempunyai sekalian sifat kesempurnaannya dan yang mempunyai al-Asma’ul Husna apabila ma’rifat bertambah sempurna dan ilmu terhadap-Nya bertambah matang, ketakutan kepada-Nya pun bertambah besar dan bertambah banyak.

Dari ayat 27 dan 28 tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Tanda-tanda kekuasaan Allah ialah diturunkannya hujan, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam.
  2. Demikian juga manusia, binatang-binatang diciptakan Allah bermacam-macam warna jenisnya sebagai tanda kekuasaanNya.
  3. Yang benar-benar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan mentaatinya hanyalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam kebesaran Allah. Dia Maha Perkasa menindak orang-orang kafir, Maha Pengampun kepada hamba-hambanya yang beriman dan taat.


C. QS. An-Nahl, 16:79

óOs9r& (#÷rttƒ n<Î) ÌøŠ©Ü9$# ;Nºt¤|¡ãB Îû Èhqy_ Ïä!$yJ¡¡9$# $tB £`ßgä3Å¡ôJムžwÎ) ª!$# 3 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqãYÏB÷sムÇÐÒÈ

Artinya : Tidaklah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.

Al-jawwu : udara diantara bumi dan langit. Dalam ayat ini di jelaskan apa yang membuktikan kesempurnaan ilmu-Nya. Maka dijelaskan bahwa pengetahuan tentang perkara ghaib yang ada dilangit dan bumi hanya ada pada sisi-Nya. Dijelaskan pula apa yang membuktikan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Maka dijelaskan bahwa kebangkitan kiamat secepat kerdipan mata atau lebih cepat daripada itu. Selanjutnya Allah kembali menjelaskan dalil-dalil tentang tauhid, dan bahwa Dialah yang berbuat dan berkuasa penuh diantara dalil-dalil itu. Disebutkan penciptaan manusia dalam berbagai perkembangannya kemudian burung yang ditundukkan untuk terbang diantara langit dan bumi, serta bagaimana Dia menjadikannya bisa terbang diangkasa tanpa ada yang menahannya selain Dia dengan kesempurnaan kekuasaan-Nya.


Allah mengingatkan para hamba-Nya kepada dalil lain yang membuktikan kesempurnaan kekuasaan-Nya.


Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang ditundukkan di udara antara langit dan bumi, tidak ada yang menahannya di angkasa dari jatuh ke bumi, kecuali Allah azza wajalla, dengan kekuasaannya yang luas. Padahal tubuhnya berat dan udara yang ringan tidak ada tiang dibawahnya. Sekiranya saja Allah mengambil kekuatan untuk terbang yang telah dia berikan kepadanya, niscaya tidakakan kuasa untuk terbang tinggi.

Tafsirannya: Allah SWT berfirman memberitahu tentang kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaannya terhadap segala sesuatu, Dia mengetahui apa yang tersembunyi di langit maupun di bumi dan tiada seorang mengetahui hal-hal yang ghaib melainkan dengan petunjuk Allah dan jika ia diberitahu oleh-Nya , kekuasaan-Nya tak terbatas, tidak dapat ditentang, ditentang atau dilumpuhkan. Dengan firman kun (jadilah) maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya dalam sekejap mata atau bahkan lebih cepat.


Dan masih banyak lagi bebrapa ayat yang memang berkaitan langsueng dengan ilmu pengetahuan. Dalam ha ini ada hal yang sampai saat ini masih menadi beban pikiran pemakalah yaitu tentang hikmah dibalik QS. Al Alaq yang merupakan 5 ayat ertamanya sebagai ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW[1].

Al Qur’an diturunkan oleh Allah 14 abad yang lalu . Al Qur’an memang bukan buku ilmiah, tetapi kitab ini mencakup beberapa penjelasan yang sangat ilmiah dalam tautan kegamaannya. Penjelasan – penjelasan ini tidak pernah bertentangan dengan penemuan – penemuan ilmu modern. Sebaliknya, fakta – fakta tertentu yang baru ditemukan dengan teknologi abad 20 itu sebenarnya te;ah diungkapkan dalam Al Qur’an pada abad empat belas silam, ini menunjukan bahwa Al Qur’an merupakan salah satu buku terpenting yang menegaskan akan kenyataan keberadaan Allah[2].

KESIMPULAN
Di tinjau dari sifat pendidikan dalam al-Qur’an diungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan al-Qur’an merupakan dua aspek kebenaran yang sama, dan tidak ada pertentangan antara keduanya. Wahyu pertama al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah agar menuntut ilmu pengetahuan umat manusia. Sebagaimana dalam surat al-Alaq ayat (1-5) tentang ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga menganjurkan manusia untuk berdoa semoga Allah SWT menambah ilmu pengetahuan kepadanya.
Di tegaskan dalam al-Qur’an bahwa hanya orang yang berilmu yang dapat lebih tinggi tingkat taqwanya kepada Allah. Sebagaimana dalam surat Fathir ayat 28. karena mereka mengetahui dan memahami tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah, baik yang tertulis dalam al-Qur’an maupun yang terlihat dalam alam semesta.









[1]  Pembahasan Lebih jelas bias dilihat pada http://faizhijauhitam.blogspot.com : Redefinisi Perintah Membaca Lewat Iqro Sebagai Wahyu Pertama
[2] Membongkar Kesalahan Faham Materialisme : Mengenal Allah Dengan Akal ; Harun Yahya, Ltd.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Sejarah Indonesia Kelas X || Konsep Dasar Sejarah : Berfikir Kronologis, Diakronik dan Sinkronik

Polusi - Materi IPA Kelas XII SMK

UTS Sosiologi Kelas XI-XII dan PTS Sosiologi Kelas X