Quantum Learning with Snowball Throwing
PENDAHULUAN
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Rabbul ‘izzati Tuhana sekalian makhluk yang telah menciptakan kita sekalian sebagai insane yang terdidik dengan khuluq. Harapan kita semoga kita semua termasuk kedalam lingkaran ni’mat dan karunia-Nya sepanjang zaman. Amin.
Shalawat dan salam mari kitajunjungkan keharibaan baginda Muhammad SAW yang telah berjuang demi tegaknya panji agama ajaran Islam sehingga damailah kita sekalian dengan syafaat dan rahmatnya. Semoga kita sekalian memang termasuk yang akan mendapatkan syafaatnya. Semoga.
Seperti kita ketahui, di dalam dua tiga dasa warsa terakhir ini perkembangan teknologi itu berjalan dengan amat cepat. Teknologi yang di hari kemarin masih dianggap modern (sunrise technology) bukan tak mungkin hari ini sudah mulai basi (sunset technology)
Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalam pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai factor pembatas, seperti kemauan berusaha, mudah bosan dll. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan, menjadi pilihan para guru/fasilitator. Jika situasi belajar seperti ini tidak tercipta, paling tidak multimedia dapat membuat belajar lebih efektif menurut pendap[at beberapa pengajar.
Pada saat ini kita semua memahami bahwa proses belajar dipandang sebagi proses yang aktif dan partisipatif, konstruktif, kumulatif,dan berorientasi pada tujuan pembelajaran , baik Tujuan Pembelajaran umum (TPU) maupun Tujuan Pembelajran Khusus (TPK) untuk mencapai kompetensi tertentu.
Sekolah-sekolah yang sudah mapan pada umumnya menggunakan teknologi multimedia di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada beberapa tahun Yang lalu yang masih menggunakann Overhead Projector (OHP) dan menggunakn media Overhead Transparancy (OHT), pada saat ini menjadi tidak mode dan ditinggalkan. Beberapa kelebihan multimedia seperti tidak perlu pencetakan hard copy dan dapat dibuat/diedit pada saat mengajar menjadi hal yang memudahkan guru dalam penyampaian meterinya. Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dll dibuat untuk mendapatkan sarana Bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Bahkan pada beberapa kesempatan telah diadakan ToT Multimedia dan juga In House Training.
QUANTUM LEARNING
1. Pengertian Quantum Learning
Quantum Learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas.
Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning berasal dari upaya Dr. Goergi Lazanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai suggestology atau suggestopedia. Istilah lain yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah ”pemercepatan belajar” (accelerated learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai sebuah proses yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal dalam suasana yang menyenangkan. Pemercepatan belajar dapat dilakukan dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan keterlibatan aktif.
Selanjutnya DePorter mengatakan bahwa dalam pembelajaran Quantum Learning ada 4 ciri spesifik yang berguna untuk meningkatkan otak untuk memahami suatu informasi yang diberikan. Ciri–ciri tersebut adalah: (1) Learning To Know yang artinya belajar untuk mengetahui; (2) Learning To Do yang artinya belajar untuk melakukan; (3) Learning To Be yang artinya belajar untuk menjadi dirinya sendiri; (4) Learning To Live Together yang artinya belajar untuk kebersamaan. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan . Adapun teori dan strategi belajar yang membentuk Quantum Learning atau pembelajaran kuantum antara lain: (a) teori otak kiri dan kanan, (b) teori otak triune, (c) modalitas belajar, (d) teori kecerdasan ganda, (e) pendidikan holistik, (f) belajar berdasarkan pengalaman, (g) belajar dengan simbol, dan (h) belajar melalui simulasi atau permainan. Meskipun Quantum Learning berakar pada berbagai teori dan metode belajar, namun menurut Bobbi DePorter akar utamanya adalah suggestology atau sugestopedia, pemercepatan belajar (Acclerated Learning), dan NLP (Neuro Linguistik Program).
Prinsip dasar sugestologi dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apapun memberikan sugesti positif atau negatif. Sedangkan pemercepatan belajar dapat diartikan bahwa siswa dapat belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal dan dibarengi kegembiraan. Adapun Neuro Linguistic Program (NLP) adalah pendekatan mengenai bagaimana merangsang fungsi otak secara efektif dengan menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan yang positif. Dengan demikian hasil belajar yang dicapai siswa akan baik jika lingkungan, proses, dan sumber-sumber belajar memberikan sugesti positif pada siswa, demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Quantum Learning merupakan seperangkat metode atau falsafah pembelajaran yang didasarkan pada berbagai teori dan strategi belajar yang dapat menghasilkan kualitas pembelajaran yang tinggi dalam waktu yang relatif cepat dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa menjadi responsif dan bergairah dalam belajar. Selain itu, agar terjadi belajar kuantum, ciptakanlah lingkungan belajar yang terbaik bagi siswa sehingga dapat menumbuhkan pikiran dan sikap positif.
2. Prinsip Dasar Quantum Learning
Quantum Learning merupakan metode pembelajaran yang menggunakan metodologi berdasarkan teori-teori pendidikan seperti: Accelerated Learning (Lazanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Program atau NLP (Grinder & Bandler) Experiental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson & Johnson), Element of Effective Instruction (Hunter) menjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar.
Adapun mengenai prinsip dasar pembelajaran dan penyelenggaraan Quantum Learning, penulis uraikan sebagai berikut. Prinsip dapat berarti (1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal, dan (2) sebuah hukum, aksioma, atau doktrin. Pembelajaran kuantum juga dibangun di atas aturan aksi, hukum, aksioma, dan atau dokrin fundamental mengenai pembelajaran dan pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga macam prinsip utama yang membangun sosok pembelajaran kuantum. Ketiga prinsip utama yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Prinsip utama pembelajaran kuntum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (siswa) ke dalam Dunia Kita (guru) dan Antarkan Dunia Kita (guru) ke dalam Dunia Mereka (siswa). Setiap bentuk interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun di atas prinsip utama tersebut. Prinsip tersebut menuntut guru untuk memasuki dunia siswa sebagai langkah pertama pembelajaran selain juga mengharuskan guru untuk membangun jembatan otentik memasuki kehidupan siswa. Untuk itu, guru dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini guru akan mudah dalam memimpin, mendampingi, dan memudahkan siswa menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka baik siswa maupun guru akan memperoleh pemahaman baru.
2) Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Selain memiliki lagu dan partitur, pemain simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar chord ini dapat disebut prinsip-prinsip dasar pembelajaran kuantum.
Adapun prinsip-prinsip dasar kuantum adalah sebagai berikut:
u Ketahuilah bahwa Segalanya Berbicara
Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai dari lingkungan pembelajaran, bahasa tubuh guru, sikap guru, penataan ruang, sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
u Ketahuilah bahwa Segalanya Bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energi menjadi cahaya mempunyai tujuan. Tidak ada kejadian yang tidak bertujuan. Baik siswa maupun guru harus menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus bertujuan.
u Sadarilah bahwa Pengalaman Mendahului Penamaan
Proses pembelajaran paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama dari sesuatu yang mereka pelajari. Dikatakan demikian, karena otak manusia berkembang pesat dengan adanya stimulan yang kompleks, yang selanjutnya akan menggerakkan rasa ingin tahu.
u Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran
Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar karena pembelajaran berarti melangkah keluar dari kenyamanan dan kemapanan, di samping berarti membongkar pengetahuan sebelumnya. Pada waktu siswa melangkah keluar, mereka harus mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Bahkan sekalipun mereka berbuat kesalahan, perlu diberi pengakuan atas usaha yang telah mereka lakukan.
u Sadarilah bahwa Sesuatu yang Layak Dipelajari Layak Pula Dirayakan
Segala sesuatu yang layak dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya. Perayaan atas apa yang telah dipelajari dapat memberikan balikan mengenai kemajuan dan dapat meningkatkan asosiasi emosi positif dalam pembelajaran.
3) Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak pada terbentuknya keunggulan. Dengan kata lain, pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukkan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung pembelajaran kuantum.
Prinsip paling dasar Quantum Learning adalah bahwa kekuatan pikiran sesorang “tidak terbatas”. Quantum Learning berupaya memaksimalkan penggunaan otak manusia dengan cara menyeimbangkan kemampuan masing-masing komponen dan bagian otak melalui berbagai aktivitas belajar.
Otak mempunyai tiga bagian dasar: batang otak, sistem limbik, dan neokorteks. Masing-masing berkembang pada waktu yang berbeda dan masing-masing bagian memiliki struktur saraf tertentu. Batang otak berfungsi mengontrol fungsi motor sensorik, pengalaman tentang realitas fisik yang berasal dari panca indra. Sistem limbik fungsinya bersifat emosional dan kognitif. Neokorteks atau berpikir menjalankan fungsi kecerdasan manusia. Pada dasarnya semua bentuk kecerdasan sudah ada dalam otak manusia sejak lahir dan tidak hanya kecerdasan intelektual saja, melainkan ada delapan kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik, matematika, visual/sosial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, dan kecerdasan naturalis.
Tiga bagian otak tersebut di atas juga dibagi menjadi belahan otak kanan dan kiri yang masing-masing memiliki spesialisasi relatif berbeda. Proses berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Sedangkan otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Dengan memaksimalkan dan menyeimbangkan kemampuan otak kanan dan kiri, setiap orang sesungguhnya memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai keberhasilan.
Motivasi kuat otak kanan yang ditopang oleh penggunaan kecerdasan secara maksimal otak kiri akan menciptakan manusia yang hebat. Keberhasilan yang telah dicapai oleh tokoh tertentu tanpa disadari adalah karena manusia mampu menggunakan kecerdasan otak kanan dan kiri secara sempurna. Banyak orang meniru motivasi serta cara berpikir dan bertindak orang-orang sukses. Ternyata banyak pula diantara mereka yang meniru, akhirnya berhasil. Bertolak dari kenyataan itu maka perlu dikembangkan belajar aktif. Dalam arti, orang harus mampu belajar mengenai mengenai apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang dipelajari agar mendatangkan manfaat baginya dan mengupayakan agar segalanya terlaksana.
Selain prinsip-prinsip tersebut, ada pula prinsip lain yang harus diperhatikan, yaitu pertama menciptakan lingkungan belajar yang tepat, menciptakan suasana belajar yang santai, menciptakan alat bantu (musik), menggunakan pengingat visual seperti menempel foto saat-saat sukses, dan interaksi dengan lingkungan belajar agar siswa semakin terampil mengatasi situasi-situasi yang menantang. Kedua, memupuk sikap juara. Artinya, berusaha memahami dan membangun sikap bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda agar siswa memiliki motivasi yang kuat dalam mengatasi rintangan dengan membekali diri dengan pesan-pesan yang positif, dan mengendalikan kerangka pikiran dengan mengendalikan ekspresi tubuh dan wajah. Ketiga, menemukan gaya belajar yang tepat, yakni mengenali dan menemukan cara yang memungkinkan dapat menyerap informasi dengan mudah untuk selanjutnya mengatur dan mengolah informasi tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap orang memiliki gaya , pola, dan cara belajar yang berbeda. Untuk mengetahui seseorang masuk golongan yang sama, ada model yang dikembangkan Anthoni Gregori, yaitu dengan menjawab serangkaian tes. Dari tes tersebut akan diketahui cara berpikir seseorang, apakah Sekuensial Kongkret, Sekuensial Abstrak, Acak Abstrak, atau Acak Kongkret.
Pemikir Sekuensial Kongkret (SK) memperhatikan dan mengingat detail dengan lebih mudah, mengatur tugas dalam proses tahap demi tahap, dan berusaha mencapai kesempurnaan. Adapun kiat-kiat bagi pemikir Sekuensial Kongkret antara lain: (a) Bangunlah kekuatan organisasi, (b) cari tahu yang diperlukan, (c) bagilah proyek ke dalam beberapa tahapan, dan (d) tatalah lingkungan kerja yang tenang.
Pemikir Acak Kongkret (AK) berpegang pada realitas dan mempunyai sikap ingin mencoba. Pemikir Acak kongkret ini mempunyai dorongan kuat untuk menemukan alternatif dan mengerjakan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Kiat-kiat jitu bagi pemikir Acak Kongkret antara lain: (a) gunakan kemampuan divergen, (b) siapkan diri untuk memecahkan masalah, (c) cermati waktu, (d) terimalah kebutuhan untuk berubah, dan (e) carilah dukungan.
Pemikir Acak Abstrak (AA) mengatur informasi melalui refleksi dan berkiprah di dalam lingkungan tidak teratur yang berorientasi kepada orang. Pemikir Acak Abstrak ini menyerap ide-ide, informasi, dan kesan dan mengaturnya dengan refleksi. Kiat-kiat jitu bagi pemikir Acak Abstrak antara lain: (a) gunakanlah kemampuan alamiah untuk bekerja sama dengan orang lain, (b) ketahuilah betapa kuat emosi mempengaruhi konsentrasi, (c) bangunlah kekuatan belajar dengan bersosialisasi, (d) lihatlah gambaran besar, (e) waspadalah terhadap waktu, dan (f) gunakan isyarat-isyarat visual.
Pemikir Sekuensial Abstrak (SA) berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Para pemikir Sekuensial Abstrak merupakan para filosof dan ilmuwan peneliti ternama. Proses berpikir pemikir Sekuensial Abstrak, logis, rasional, dan intelektual. Kiat-kiat jitu bagi pemikir Sekuensial Abstrak antara lain: (a) latihan logika, (b) suburkan kecerdasan, (c) upayakan keteraturan, dan (d) analisislah orang-orang yang berhubungan.
Pada prinsipnya model pembelajaran kuantum (Quantum Learning) merupakan suatu model pembelajaran yang berusaha mengoptimalkan kemampuan otak manusia dengan cara menciptakan keseimbangan otak kiri dan kanan. Seseorang akan menjadi orang yang hebat jika dapat mengoptimalkan kemampuan otaknya. Model kuantum berkeyakinan bahwa otak manusia memiliki kemampuan yang tak terbatas. Oleh karena itu, melalui model kuantum dikembangkan berbagai kecerdasan yang sebenarnya sudah dimiliki manusia. Selain mengoptimalkan otak, Quantum Learning sangat memperhatikan lingkungan dan selalu memanfaatkan selah untuk selalu memberikan motivasi.
3. Penerapan (Aplikasi) Quantum Learning
Prinsip-prinsip Quantum Learning di atas pada hakikatnya berfungsi untuk mengubah paradigma seseorang agar lebih memiliki semangat atau motivasi dan memiliki cara-cara baru dalam belajar. Hal tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pemahaman terhadap teknis penerapan Quantum Learning sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Pertama, Teknik Mencatat Tingkat Tinggi. Salah satu teknik mencatat adalah dengan membuat peta pikiran. Peta pikiran menggunakan pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola mengenai ide-ide yang berkaitan. Hal ini seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan dapat memicu ingatan yang mudah.
Kedua, Menulis dengan Penuh Percaya Diri. Menulis adlah aktivitas seluruh otak yang menggunakan kemampuan otak kanan dan kiri. Oleh karena itu, aktivitas menulis harus dilaksanakan dengan penuh gairah dan kegembiraan. Dalam penulisan ada dua hal penting yang ditawarkan oleh pembelajaran kuantum, yaitu proses pengelompokkan gagasan (clustering). Dan penulisan secara cepat. Pengelompokkan gagasan merupakan suatu cara memilih gagasan-gagasan dan menuangkannya ke atas kertas secepatnya. Sedangkan penulisan secara cepat merupakan proses penulisan hanya kata kunci (key word) yang mudah diingat.
Ketiga, Mengupayakan Keajaiban Memori. Hal yang penting agar memiliki daya ingat yang lebih baik adalah dengan cara mengasosiasikan berbagai hal dalam memori. Setiap memori dapat menggunakan asosiasi sederhana untuk mengingat potongan-potongan informasi yang tersembunyi dan asosiasi yang lebih kompleks untuk mengingat teori-teori yang sulit dan bagian informasi yang mengandung banyak potongan-potongan kecil yang saling berkaitan. Teknik lain yang dipakai adalah sistem cantol, yaitu mencocokkan angka-angka dengan kata-kata berirama atau petunjuk-petunjuk visual. Sistem ini menjadikan informasi dapat tertanam lebih kuat dalam memori.
Keempat, Melaju dengan Kekuatan Membaca. Cara orang membaca berbeda-beda. Ada yang membaca menggunakan jari sebagai petunjuk, ada pula yang membaca secara cepat. Cara yang digunakan membaca merupakan hal yang amat penting dalam kemajuan belajar seseorang. Pembelajaran kuantum berupaya mendorong seseorang untuk bisa memiliki kemampuan membaca yang baik, yaitu dengan berlatih menjadi pembaca yang aktif. Seseorang disebut pembaca yang aktif apabila membaca gagasan, bukan kata-kata; melibatkan seluruh indranya; menciptakan minat dan memuat peta pemikiran atas bahan bacaan yang dibacanya. Dengan demikian, model pertama yang harus dimiliki sebelum membaca adalah membuat suasana senyaman mungkin menurut perasaan sendiri.
Kelima, Berpikir Logis dan Berpikir Kreatif. Cara berpikir manusia pada dasarnya melibatkan dua belahan otaknya secara lateral, hasil, dan kreatif berada pada otak intuitif (kanan). Sedangkan berpikir secara vertikal, kritis, strategis, dan analisis berada pada otak logis (kiri). Oleh karena itu, Quantum Learning, menandaskan tentang pentingnya setiap orang bersedia berganti paradigma, cara pandang seseorang terhadap realitas. Selanjutnya, perlu menentukan visi baru ke arah masa depan. Inilah yang disebut proses kretaif. Hal ini mengalir melalui tahap mendefinisikan masalah, tujuan, dan tantangan; mencerna fakta-fakta dan mengolah dalam pikiran (inkubasi); memunculkan gagasan baru (iluminasi); memastikan bahwa alternatif solusi benar-benar menjawab persoalan (verifikasi); dan mengambil langkah-langkah kongkret (aplikasi). Dengan cara demikian, orang akan menemukan gagasan-gagasan yang berani dan bermakna untuk kehidupan di masa yang akan datang.
Aplikasi pembelajaran kuantum atau Quantum Learning tidak akan berhasil tanpa disertai dengan pemahaman terhadap teknis pelaksanaannya. Teknis pelaksanaan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan praktik pengajaran, seperti teknik mencatat tingkat tinggi, menulis dengan penuh percaya diri, mengupayakan daya ingat (memori), mengoptimalkan kekuatan membaca, dan berpikir logis dan kreatif.
Pembelajaran yang menerapkan model Quantum Learning mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan, baik dalam proses maupun hasil belajar. Perubahan-perubahan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai indikator keberhasilan dari penerapan Quantum Learning dalam pembelajaran. Perubahan-perubahan tersebut antara lain sebagai berikut: (1) dalam pembelajaran terjadi interaksi multiarah; (2) siswa aktif dalam mengolah informasi yang diterimanya baik secara individu, maupun secara kelompok. (3) pembelajaran berfokus pada siswa (student centered); (4) potensi intelektual, personal, dan sosial siswa tumbuh dan berkembang dengan pesat; (5) memacu keterampilan berpikir anak; (6) memungkinkan terciptanya self discovery learning; dan (7) kepercayaan diri semakin bertambah.
Penerapan Model Snowball Throwing
Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu dikelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi.
Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.
Langkah-langkah Penerapan Snowball Throwing:
a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
d. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
e. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit.
f. Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
g. Guru memberikan kesimpulan.
h. Evaluasi.
i. Penutup.
Kelebihan:1). Melatih kesiapan siswa. 2). Saling memberikan pengetahuan.
Kekurangan: 1). Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa.2). Tidak efektif.
C. Pengelolaan Sekolah Penyelenggara Quantum Learning yang Efektif
Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengelolaan sekolah penyelenggara Quantum Learning yang efektif, penulis akan melihat inti sari dari tiga permasalahan, yaitu pengelolaan sekolah, sekolah efektif, dan Quantum Learning.
Pengelolaan sekolah dipandang sebagai usaha pimpinan sekolah dalam memanfaatkan seluruh sumberdaya sekolah untuk mencapai tujuan yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik; mencakup perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efiasien.
Sekolah yang efektif adalah sekolah yang sudah berada dalam suatu taraf mampu mencapai tujuan secara optimal melalui sistem pengelolaan yang baik dalam memberdayakan setiap komponen penting sekolah sehingga menghasilkan lulusan atau siswa yang berkualitas.
Quantum Learning merupakan seperangkat metode atau falsafah pembelajaran yang didasarkan pada berbagai teori dan strategi belajar yang dapat menghasilkan kualitas pembelajaran yang tinggi dalam waktu yang relatif cepat dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa menjadi responsif dan bergairah dalam belajar.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengelolaan sekolah penyelenggara Quantum Learning yang efektif adalah kemampuan sekolah dalam mengkoordinasikan berbagai komponen dan segenap sumber daya sekolah secara sistematik dan efektif untuk mencapai tujuan sekolah secara optimal melalui proses pengelolaan yang baik, yaitu perencanaan, pengorgnisasian, dan pengawasan yang baik terhadap penyelenggaraan pembelajaran di sekolah yang menggunakan metode atau falsafah pembelajaran yang didasarkan pada berbagai teori dan strategi belajar yang dapat mengnasilkan kualitas pembelajaran yang tinggi dalam waktu yang relatif cepat dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa menjadi responsif dan bergairah dalam belajar, sehingga menghasilkan lulusan atau siswa yang berkualitas.
D. Metode Quantum Learning
Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode kami sendiri. Termasuk di antarnaya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain, seperti:
· Teori otak kanan/kiri
· Teori otak three in one
· Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik)
· Teori kecerdasan ganda
· Pendidikan holistic (menyeluruh)
· Belajar berdasarkan pengalaman
· Belajar deengan symbol (Metaphoric Learning)
· Simulasi/permainan
Metode Quantum learning bisa mensugesti kerja otak kanan. Proses kerja otak kiri yang selalu bersifat logis, sekuensial, linear, dan mampu melakukan penafsiran abtrak dan simbolis, serta cara berpikirnya yang sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, mendapatkan detail dan fakta, dan fonetik, dapat disesuaikan dengan cara berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal, seperti perasaaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas, dan visualisasi (hal:38).
Menurut metode ini, memahami fungsi dan kerja kedua belahan otak sangat penting artinya. Orang yang mampu memanfaatkan kedua belahan otak ini juga cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya. Belajar terasa sangat mudah bagi mereka yang mempunyai pilihan, untuk menggunakan bagian otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang sedang dihadapi. Sebagian besar komunikasi diungkapkan dalam bentuk verbal atau tertulis, yang keduanya merupakan spesialisasi otak kiri, terutama bidang-bidang pendidikan, bisnis, dan sains cenderung berat ke otak kiri. Jika seseorang termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas untuk otak kanan, maka ketidakseimbangan yang dihasilkannya dapat mengakibatkan stress dan juga kesehatan mental dan fisik yang buruk.
Metode ini menawarkan perlu dimasukkannya musik dan estetika dalam situasi belajar sebagai upaya mengimbangi kerja dari kedua bagian otak tersebut.Semua itu akan menghasilkan emosi positif, yang membuat otak anda lebih efektif. Emosi yang positif mendorong kekuatan otak, yang mengarah pada keberhasilan, yangselanjutnya dapat meningkatkan rasa hormat diri yang tinggi.
Metode ini menawarkan perlu dimasukkannya musik dan estetika dalam situasi belajar sebagai upaya mengimbangi kerja dari kedua bagian otak tersebut.Semua itu akan menghasilkan emosi positif, yang membuat otak anda lebih efektif. Emosi yang positif mendorong kekuatan otak, yang mengarah pada keberhasilan, yangselanjutnya dapat meningkatkan rasa hormat diri yang tinggi.
Jadi, menurut DePorter, manusia pada dasarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk melampaui kemampuan yang ia perkirakan. Ini karena manusia memiliki potensi yang belum tergali, apalagi terasah. Untuk menggali potensi itu, menurut DePorter, lingkungan mesti mendukung agar proses belajar berlangsung mudah, menarik, dan menyenangkan. “Rasa aman dan saling percaya di antara murid dan guru merupakan hal esensial bagi proses belajar,” tutur DePorter.
Program ini bertumpu pada asumsi bahwa setiap orang memiliki potensi besar dan dapat berhasil baik di sekolah maupun dalam kehidupan –jika diberi peranti dan keyakinan untuk belajar dan tumbuh-berkembang, bahwa anak yang memiliki harga diri (self-esteem) positif akan belajar sangat cepat dan efektif. DePorter mengembangkan teknik untuk membantu menggempur kendala yang menghalangi seseorang untuk meraih sukses, seperti motivasi yang rendah, harga-diri yang kerdil, serta prestasi yang minim.
Banyak pelajar menganggap ruang kelas sebagai penjara, karena proses belajar yang tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam mencurahkan perhatian dan pikiran pada mata pelajaran tak ubahnya duduk di atas bara api. Belajar dirasakan sebagai beban dan tidak nyaman. Bahkan, kata Bobbi DePorter, “Pada akhir sekolah dasar, kata belajar dapat membuat banyak siswa tegang dan takut.” Yang terjadi ialah anak menghambat pengalaman belajarnya secara terpaksa karena mengalami kebuntuan belajar (learning shutdown).
Dengan metode belajar yang diramunya dari sejumlah metode yang ada lebih dulu, DePorter mengubah proses belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, sederhana, dan efektif. Lingkungan yang suportif akan membangkitkan harga diri siswa, sebaliknya kritik tajam akan “membunuh” proses belajar.
Itu berarti antara pengajar dan pelajar mesti terjalin saling pengertian dan saling mempercayai. Hubungan timbal-balik itu menggambarkan kondisi internal dan eksternal murid. Di satu sisi, menurut DePorter, siswa perlu mengondisikan diri agar memiliki emosi positif ketika belajar. Di sisi lain, siswa perlu diberi motivasi agar dari dalam dirinya muncul semangat belajar.
Bila emosi positif –emosi adalah bagian penting dari kecerdasan seseorang– tidak dapat dibangun, ruang-ruang kelas tak lebih dari sekat-sekat yang membatasi pengembaraan intelektual seseorang. Murid menjadi loyo dan proses belajar menjadi membosankan. Karena itulah, DePorter mengatakan pada dasarnya setiap orang mampu belajar –baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan nyata. Namun, untuk meraih sukses dalam belajar, keyakinan diri, rasa hormat, dan kepedulian terhadap individu merupakan hal vital yang harus dibangkitkan lebih dulu.
Karena itu pula, diajarkan ketrampilan hidup seperti berkomunikasi secara efektif, menjalin hubungan dengan orang lain, berlatih mendengarkan, memecahkan masalah, serta mengikuti petualangan di alam terbuka. Perbedaan paling pokok antara SuperCamp dan program sejenis lainnya terletak pada cara penyelenggara memfasilitasi perubahan sikap dan motivasi peserta terhadap sekolah. SuperCamp mengajarkan bagaimana cara belajar yang cepat dan efektif (learning-to-learn).
Melalui metode belajar yang mudah dipraktekkan, efektif, dan menyenangkan seseorang dirangsang semangatnya untuk berusaha keras menguasai materi yang ia pelajari. Ia tak ubahnya anak balita yang diberi mainan baru. Tanpa bertanya “ba bi bu”, ia langsung terdorong untuk mengutak-atik mainan itu karena ia ingin mengenalnya lebih dekat dan dari segala penjuru. Inilah yang disebut proses belajar menyeluruh atau global learning.
Kuncinya ialah karena bagi anak-anak itu belajar dan bermain tidaklah berbeda; mereka belajar dengan riang dan bebas stres. Kedua hal inilah yang ingin dihadirkan kembali oleh Quantum Learning di ruang-ruang belajar di sekolah, di rumah, maupun dalam kehidupan sosial yang nyata.
E. Implementasi Quantum Learning
Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.
Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”
Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak “kiri dan kanan”. Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.
Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada proses belajar yang menargetkan tumbuhnya “emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.” Keempat unsur ini bila digambarkan saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri.
Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”
Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta didik quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.
Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia , lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.
Lingkungan makro ialah “dunia yang luas.” Peserta didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. “Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda mempelajari informasi baru,” tulis Porter. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu). Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan siswa kepada kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan situasi status quo yang diciptakan di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan memperluas “zona aman, nyaman dan merasa dihargai” dari siswa.
F. Manfaat Quantum Learning
Quantum Learning efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan
Quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”
PENUTUP
Dapat kita simpulkan bahwa ebenarnya model atau strategi bentuk apapun sebenarnya bertujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar para siswa dalam menerima pembelajaran merasa senang dan tertarik.
Dapat kita simpulkan tentang definisi quantum learning adalah Quantum Learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan.
Quantum learning pun akan sangat menarik ketika kita coba menerapkannya dengan model Snowball Throwing yaitu dengan memberikan Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu dikelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi
SUMBER BACAAN
a. Sanjya, Wina., DR., M.Pd., Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, 2006, Kencana, Jakarta .
b. Wahab, Abdul Azis., Prof., DR., H., MA., Metode dan Model – Model Mengajara IPS, 2008, Alfbeta, Bandung .
c. Arsyad, Azhar., Prof., DR., M.A., Media Pembelajran, 1997, Raja Grafindo Persada, Jakarta .
d. Soemanto, Wasty., Drs., M.Pd., Psikologi Pendidikan, 2006, Rieneka Cipta, Jakarta .
e. Susilana, Rudi., Drs., M.Si., Media Pembelajaran hakikat, pengambngan, Pemanfaatn, dan Penilaian, 2007, Wacana Prima, bandung .
f. Hakim, Lukmanul., Drs., M.Pd., Perencanaan Pembelajaran, 2007, Wacana Prima, Bandung .
i. Septiawan Santana Kurnia, Quantum Learning bagi Pendidikan Jurnalistik: (Studi pembelajaran jurnalistik yang berorientasi pada life skill); on line : Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan www.depdiknas.go.id
j. Bobbi DePotter dan Mike Hernacki. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terjemahan Alwiyah Abdurrahman (Bandung: Kaifa, 1992)
Komentar
Posting Komentar