Catatan Perjalanan

… Catatan Perjalanan …

Sepenggal Harapan itu Adalah “K.E.M.A.T.I.A.N”



…sore itu langit biru begitu bisu, membisu sebisu harapan seorang bocah yang tengah berjuang ditengah drama kehidupan yang dirasakannya teramat membosankan. Sebosan harapannya sore itu yang dia piker menjadi sore terakhir dalam detik hidup kehidupannya : Harapan itu adalah K.E.M.A.T.I.A.N ...




Tangerang, 12 April 1989 atau 1990 Ms – Tegalgubuglor 12 April 2005 Ms

Perkenalkan aku “bocah” yang pada saat tanggal ini usiaku genap 16th tepatnya 15th mungkin, karena menurut sepengakuan ibuku akte kelahiranku dipercepat tanggal lahirku setelah 3th lebih 7 bulan aku sudah masuk SD. Untuk menyiasati kebijakan pemerintah akte kelahiranku dirubah dengan membuatku satu tahun lebih tua disbanding umur asliku.



Dalam “hikayat” ini akan aku coba dongengkan sepenggal cerita yang tidak berujung, sebab ujung cerita itu adalah tidak ada ujung dari cerita ini sendiri hingga malam ini aku biarkan jari lentikku menari di atas keyboard Presrio CQ42 kesayanganku. Inilah kisahnya : kisah si “bocah



Rencana Tuhan

Keterpurukan ekonomi membuat si “bocah” itu berfikir bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan ini. Usianya yang beranjak 16th sudah dirasanya cukup disebut akil baligh dan artinya sudah tidak pantas lagi ketergantungan terhadap kiriman dari orang tuanya nun jauh disana, sementara masih banyak lagi hal lain yang harus menjadi prioritas mereka selain si “bocah” itu.



Sore itu dia membisu, sebisu sore itu yang mengikuti bisunya harapan yang dia rasa sudah tidak pantas lagi dia harapkan. Sore itu yang tergantung dibenaknya hanya sepenggal harapan, harapan yang ia yakini -hanya itu yang- mampu menyelesaikan semua keterpurukannya. Sepenggal harapan itu adalah : K.E.M.A.T.I.A.N



Hampir saja harapan itu diamininya dalam bentuk tindakan yang andai saja dia tidak ingat kalau bilik-bilik pesantren yang dulu sempat menemani hari-harinya untuk menghragai setiap detik dalam hidup dan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan, mungkin saat ini si “bocah” itu tidak lagi mampu menulis tulisan ini. Namun buktinya tulisan ini ada ; berarti si “bocah” itu tidak jadi mewujudkan harapannya itu. Sampai saat ini si “bocah” itu masih hidup.



Ditengah kegelisahannya dia ingat, teringat dan pastinya diingatkan Tuhan dengan beberapa lantunan ayat al Qur’an yang sempat dulu mampir di serambi hatinya yang yakin dia sore itu Tuhan betul sedang ingin berkomunikasi dengan keterpurukan dirinya. Dia pun ingat :




Dia ingat betul dan sadar mungkin tuhan betul sedang berkehendak untuk berbicara dengan dirinya : berbicara tentang  keterpurukannya seolah-olah Tuhan berkata : “Hai si “bocah” : kata siapa harapan lo tuh harus dipenggal dengan sepenggal K.E.M.A.T.I.A.N? Apa kurang nikmat dan anugerah yang aku hadiahkan buat lo?


malam aku rubah jadi siang, siang aku rubah jadi malam, apalagi Cuma masalah keterpurukan lo?! Yang hidup bisa aku buat mati yang mati bisa aku buat hidup! Apalagi hati lo yang belom mati!! Tenang Tuhan kalo mau ngasih rezeki bisa saja dengan jalan yang bahkan kamu tidak mengiranya” kira-kira seperti itu bahasa Tuhan jika kita dialektikakan!!


Tuhan memang sedang ingin berkomunikasi dengan si “bocah” sore itu. Sebentar si “bocah” berfikir tentang itu sembari mengiyakan kata Tuhan di atas. Diapun bangkit – mencoba bangkit tepatnya dari sekian keterpurukan yang sedang dialaminya. Dengan sisa kesadaran yang ia punya dia sedikit berteriak meneriaki dirinya sendiri : “AKU HARUS BANGKIT” begitulah kurang lebih teriaknya dalam kata. Kata yang dia yakini sangat bermakna baginya sore itu.



Cerita sore itu berlalu dengan kebisuannya - sebisu sore itu ; walau harapannya kini sudah tidak sebisu sore itu. Setidaknya Tuhan sudah merencanakan sebuah cerita indah untuk dirinya di sore bisu itu. Harapan : Untuk bangkit dari keterpurukan.



Lembayung sore segera menyapa dengan jingga di ujung barat pandangannya : selepas ‘isya dia memutuskan bersilaturahmi ke rumah sahabat sekaligus Guru fiqih baginya ; Ustadz Mahbub namanya. Betul ternyata silaturahmi membuahkan rizki -rencana Tuhan mulai menemukan titik temunya-. Alih-alih silaturahmi untuk mengaji beliau malah menawari si “bocah” untuk bekerja part time sebagai kurir pengiriman barang. Kebetulan ustadz nya itu seorang pengusaha muda yang bergelut dibidang penjualan garmen antar pulau. Subhanallah ; Indahnya rencanamu Tuhan!!



Palembang, 13 April 2005

Ekspedisi Bumi Sriwijaya : Mencari Rupiah

Jadilah hari itu ekspedisi pertamanya bangkit dari keterpurukannya, menjadi kurir pengantar barang walau hari itu dia harus rela meninggalkan pelajaran Sejarah di kelasnya. Baginya kini bangkit dari keterpurukan ekonomi adalah hal yang wajib. Sejak hari itulah si “bocah” mulai rajin bekerja demi sesuap nasi untuk kemudian  mulai kembali lagi dalam hidup normalnya sebagai seorang siswa kelas II Madrasah Aliyah dan tentunya jabatan barunya sebagai kurir. Setidaknya 450.000 saja dia dapatkan setiap bulannya ditambah kerjanya yang tidak seperti pertama mengirim barang langsung. si “bocah” tinggal mengirim lewat jasa pengiriman barang : mudah sekalai kerjaan ini.



Hingga akhir tahun kelulusan jabatannya sebagai kurir tidak tergantikan hingga dia bangga dengan jabatannya itu ; setidaknya jabatan itu yang mengantarkannya menyelesaikan masa abu-abunya dengan sedikit kebahagiaan dan kenyataan kalau dia lulus dengan predikat terbaik Jabar versi Masjid Salman ITB Bandung ditambah panggilan Bea Siswa dari STIAMI Madinatul ‘Ilmi Depok.


 History is Never Ending : Ujung Jari Tuhan

Kejadian itu bernama : Kehendak Tuhankah?!

Sumedang, 30 Juni 2007

… manusia merencana, Tuhan yang menentukan ..

Mungkin kata di ataslah yang paling tepat menggambarkan keadaan Kota Sumedang hari itu. Ustadz Mahbub sahabat, Guru Fiqih sekaligus Bos nya kini hari itu mendadak memecat si “bocah” tanpa sebab, hingga artinya tak ada lagi pemasukan untuk si “bocah” mulai hari itu -setelah beberapa hari si “bocah” tahu ternyata Bos nya itu menjadi korban Perampokan di Kota Sumedang dan akhirnya terpaksa atau dipaksa tepatnya untuk menutup usaha garmennya-. Saat itu si “bocah” tidak begitu membisu sebisu harapannya dulu karena pikirnya rencana Tuhan belum berakhir sebab dia masih punya Bea Siswa di STIAMI Madinatul ‘Ilmi Depok ; ternyata Ujung Jari tuhan berkata lain siang itu tiba-tiba petir menyambar ubun-ubunnya setelah dia dengar kabar kalau yayasan tempat dia menyelesaikan study abu-abunya membatalkan kesepakatan dengan pihak Madinatul ‘Ilmi. Kehendak Tuhankah?!





Kisah itu tidak selesai hingga hari itu:

Tuhan masih punya jari-jari yang lain untuk menunjukan kasih sayangnya untuk si “bocah” : kenyataannya hingga hari ini, hari saat tulisan ini ditulis -Selasa, 22 Maret 2011 Pkl. 01.56 Wob- si “bocah”tengah asyik menarika jemarinya diatas keyboard Compaq Presario CQ42 di kamarnya sendiri dengan fasilitas kamar hotel kelas melati juga ditemani dua buah koleksi Hand Phone nya yang tidak terlalu jadul : si “bocah” masih ada dan tersenyum menghadapi keterpurukannya. Tersenyum jika kini dia tengah bergulat dengan dunia usahanya yang lain.



Ternyata si “bocah” yakin ketika Tuhan dulu memecatnya menjadi kurir, Tuhan sudah menyiapkan rencana lain yang lebih baik dari sekedar menjadi kurir. si “bocah” tidak menceritakan kisah ini di sini, seperti janjinya kisah ini tanpa ujung sebab ujung dari kisah ini adalah ketiadaan ujungnya itu sendiri.



si “bocah” cuma tahu jika mereka yang berhasil adalah mereka yang mau “berziarah ke sejarah” seperti kata tuhan dalam Qs. Al Hasyr ayat 18 dan satu yang harus si “bocah” tawarkan disini bahwa kita tidak tahu sedangkan tuhan Maha Tahu. Jazakumullah


Wallahua’lam Bish Shawab





Salam Hormat,

Mohammad Faizin ibn Najmudin Al bantaniy

NIM : 58440956

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Sejarah Indonesia Kelas X || Konsep Dasar Sejarah : Berfikir Kronologis, Diakronik dan Sinkronik

Polusi - Materi IPA Kelas XII SMK

UTS Sosiologi Kelas XI-XII dan PTS Sosiologi Kelas X